Kamis, 21 Maret 2019

Ikhlaskan Saja..


Untuk segala keputusan yang akhirnya kau ambil sebagai jalan penentuan, ikhlaskanlah..
Lepaskanlah dengan sebenar keikhlasan yang membuat dadamu lapang. 
Apapun itu, jangan pernah kau sesali. Bukankah kau telah merenungkannya berulang kali?
Tak apa. Yakinlah itu memang yang terbaik dari semuanya.

@zahidaannayra_

Karena untuk bertahan pun, semua ada waktu berakhirnya. Bahwa untuk bersabar pun, tetap ada batas untuk kemudian berbenah dengan usaha lainnya. Ada batas waktu dimana kau harus mengobati luka tanpa membiarkannya berlama-lama. Sebab tak semua orang mampu untuk membiarkan dirinya terluka terlalu lama. Lebih baik beranjak untuk kemudian mencari penawarnya.

Ada kalanya seseorang harus melawan keegoisan untuk selalu menuruti perasaannya hanya karna ingin. Bagaimanapun, hati punya hak untuk sembuh. dan kau harus mengusahakan bagaimanapun caranya. 

Aku tahu itu berat. Dan konsekuensi pasti hadir mengiringi keputusan itu.
Obat itu pahit. Namun jika ingin sembuh, kau harus menelannya. Tak apa. Bertahanlah sedikit saja. Yakinlah bahwa setelahnya, kau akan lebih baik dari sebelumnya.

__
19-03-19

Rabu, 13 Maret 2019

Beranjaklah Seutuhnya


Jika kamu telah mengambil langkah untuk menjauh, jangan lagi coba-coba mendekat. Mencuri-curi pandang kesempatan untuk sekedar melihatnya. Berpura-pura lewat hanya untuk memastikan adanya.

Bila kamu telah memutuskan untuk melepaskan, lepaskanlah seutuhnya. Jangan lagi mencari-cari keberadaannya. Jangan lagi melontar tanya penasaran dimana ia berada.

Jika kamu telah mengambil langkah untuk melupakannya, jangan lagi bertanya-tanya kemana perginya, dengan siapa, dan apa yang akan dilakukannya..

Bila kamu telah memutuskan untuk menjauh, melepaskan, kemudian melupakannya, namun masih stagnan pada kebiasaan-kebiasaan yang dahulu pernah kalian lakukan bersama, lalu, bagaimana kamu akan mampu beranjak seutuhnya? Sedang luka yang ada, bukan sedikit-demi sedikit kau obati, namun justru kau pupuk dengan sayatan lain yang membuatnya semakin menganga..

Bagaimana mungkin luka itu mampu sembuh, sedang kau tak mengupayakannya? 

"Setidaknya jika ingin luka itu sembuh, berhentilah untuk menengoknya, berhentilah untuk menyentuhnya, berhentilah untuk terus memperhatikannya. Waktu akan menyembuhkan. Setidaknya jika tidak hilang, kamu akan terbiasa dan mulai mati rasa."

 @mbeeer_

Senin, 11 Maret 2019

Bertahanlah Satu Hari Lagi



Mungkin ini berat. Mungkin rasanya menyiksa hingga mati terasa jauh lebih baik ketimbang bertahan melewati ini semua. Aku mengerti. Aku tau ini semua terasa tidak adil. Seakan berusaha adalah percuma. Seolah tiap tenaga hanya tak lebih dari sebuah usaha untuk menahan luka lebih lama.

Namun begitulah hidup. Setiap orang akan merasakannya, dipaksa melepas apa yang begitu digenggam dengan bahagia, dipaksa ikhlas ketika sudah berjuang sekuat tenaga. Aku tau ini berat, begitu berat. Tapi percayalah, semua ini akan berlalu. Berubah menjadi lebih baik.

Waktu akan menyembuhkan segalanya. Sulit memang rasanya untuk kembali percaya setelah semua kecewa. Namun biar bagaimanapun hidup akan tetap berjalan, waktu akan selalu menyembuhkan luka. Dan kelak semua akan kembali baik-baik saja.

Kau hanya butuh bertahan satu hari lagi.

Setiap harinya.


Tak usah terburu-buru untuk bangkit. Pelan-pelan saja. Melangkahlah perlahan. Tanamkan sedikit kata-kata dalam kepala bahwa terkadang ada hal-hal yang tak mungkin kita dapatkan sekeras apa pun kita telah berusaha.
Bertahanlah.
Sehari lagi.
__
@BK

Kamis, 14 Februari 2019

Bagaimana??


“Apa kau percaya, jika aku mengatakan bahwa aku menunggumu selama ini?”

Bagaimana mungkin aku percaya? Sedang realita di depan mata bertolak belakang dari pernyataan yang baru saja kau kata..

Bagaimana mungkin aku percaya? Sedang gesture, mimik wajah, dan tatapan matamu tak mampu kau manipulasi adanya;

Bahwa kau begitu bahagia ada di sampingnya.
Bahwa kau begitu menikmati saat-saat bersamanya.
Bahwa kau begitu nyaman ada di sisinya.
Bahwa kau merindukan saat-saat bersamanya..

Lalu, bagaimana aku bisa percaya, saat realita menyatakan bahwa bahagiamu ada bersamanya?
Salahkah jika aku tak mampu semudah itu percaya?

Aku terlalu takut untuk membuka hati seperti sedia kala. Aku terlalu takut untuk mengingat segala rasa sakit yang ada..

Kau mungkin tak pernah tahu, betapa tak mudah bangkit sendirian dari patah yang menyakitkan. Kau mungkin tak pernah tahu, berapa banyak malam yang basah oleh airmata kenestapaan. Kau mungkin tak pernah tahu, betapa tak mudah berjuang sendirian.

Aku mungkin terlalu takut untuk percaya lagi..
Sebab yang patah, tak semudah itu disatukan.

Kau tahu?
Patah itu sakit.
Jatuh itu sakit.
Kecewa itu sakit.

Sebab kusadar, bukan pada-Nya harapan itu kuletakkan seutuhnya. Aku terlanjur salah dalam melabuhkan pengharapan atas segala kesah kehidupan. Aku terlanjur salah memetakan pengharapan. Hingga Ia jatuhkan aku dalam kecemburuan.

Ya, aku tahu. Tidak seharusnya aku menyalahkan kamu ataupun dia yang mengudara dalam hatimu.
Ini sepenuhnya salahku. Dan sudah selayaknya aku memohon ampun kepada Rabbku.  
__


Aku sangat ingin percaya. Namun bagaimana? Bisakah kau tunjukkan caranya?

Kamis, 07 Februari 2019

In Missing You


Ada rindu yang tak perlu susah payah kau jelaskan dengan penafsiran yang membuat lisanmu berbuih busa

Ada rindu yang tak selalunya mampu kau ungkap sebagaimana rasa yang berkelindan di dalamnya

Ada rindu yang tak selalunya mampu kau tafsirkan dengan kekata

Cukup dengan melangitkan doa untuknya, dan Allah yang akan menyampaikannya

Cukup dengan kau sebut namanya dalam tengadah malam, dan Allah yang akan mengetuk hati sang pemilik nama

Cukup dengan mendoa kebaikan untuknya, dan Allah yang akan satukan hati kalian dengan cara-Nya 

Dan yang paling penting, 

Jangan lupa tuk mendoa temu dengannya di Syurga, dan kerinduan itu akan menuai bahagia, selamanya.

__
#inmissingyou 😘
@zahidaannayra_.

Jumat, 01 Februari 2019

Kepergianmu_



“Nyesek tau”

“Kenapa? Karna kita nggak jadi pergi bersama?”

“Itu sih udah pasti. Tapi ada hal lain yang bikin aku lebih nyesek daripada ini.”

“Apa?”

“Karna kamu mau ninggalin aku.”

“Ahahaha.. nggak usah lebay deh. Nggak mungkin juga kamu sedih aku tinggalin. Lagian ini juga nggak lama kok, cuma sementara..”

“Iya, sementara. Untuk kali ini. Beberapa bulan selanjutnya nanti kamu bakal bener-bener pergi.”

“Yaa, kan nanti masih ada waktu sebelum kepergian aku..”

“Kenapa sih, kepergianmu harus diajukan?”

“Ya aku juga nggak tau. Dari atasannya gitu. Mau gimana lagi? Aku juga nyesek kali.”

“Maaf ya.. Toh ini juga bukan kehendak aku.” Katamu lagi.
__
Ah, jadi kayak gini rasanya mau ditinggal? Jadi gini rasanya mempersiapkan mental untuk berjarak?

Kamu nggak pernah tau, kalau aku nggak pernah bercanda soal sedihku.  Kamu nggak pernah tau perihal rindu yang sering tiba-tiba hadir ketika perbincangan antara kita telah lama mengering dari lisan. Kamu nggak pernah tau, betapa kadang aku iri dengan kesibukan yang begitu menyita waktumu. Atau, mereka yang setiap hari leluasa berinteraksi denganmu.

Bagaimanapun, meninggalkan selalunya lebih mudah daripada yang ditinggalkan, bukan? Karena yang meninggalkan itu ibaratnya terbang, pergi menjelajah dunianya yang baru. Sedang yang ditinggalkan? Hanya mampu terperangkap dalam kubangan kenangan dan rindu di tiap tempat dan waktu.
__
“Aku mau umpetin sepatu kamu.”

“Kenapa?”

“Biar kamu nggak jadi pergi.”

“Umpetin aja.” Katamu sambil tertawa.

“Nanti kalau aku ketiduran, dan kamu harus berangkat, bangunin aku, ya..”

“Iya..” kamu tersenyum. Lagi. Dan aku sengaja berpaling; menyembunyikan mata yang mulai berkaca.
__
Ah, jadi gini rasanya ditinggal?
Padahal kamu belum pergi. Tapi aku udah sesedih ini.

Kamu, hati-hati di jalan, ya..
Semoga selamat sampai tujuan. Semoga tugasmu dimudahkan, dan segala urusanmu dilancarkan.
Maaf, nggak bisa membekali apa-apa. Hanya doa yang sentiasa terlantun mengiringi setiap langkah kepergianmu.
__
*kamu pasti nggak percaya, kalo aku nulis ini sambil berkaca-kaca.
Sekarang udah tau, kalo kamu seberharga itu? Udah percaya, kalo ada orang yang bisa menganggapmu berharga dalam hidupnya?

Kamu, jangan pernah lagi menganggap dirimu bukan siapa-siapa di mata oranglain. Dan setelah ini, semoga kamu bisa berhenti menganggap dirimu biasa saja..

Cause you’re amazing..

Just the way you are..
__
#day16
#30haribercerita
@zahidaannayra_

Minggu, 27 Januari 2019

Istiqomah part 2



Aku teringat akan seorang sahabat nabi yang bertanya kepada Beliau Shallallahu ‘Alaihi Wasallam; “Wahai Rasulullah, katakanlah kepadaku tentang Islam, yang mana saya tidak perlu menanyakannya kepada oranglain.”

Rasulullah menjawab; “Qul amantu billahi tsummastaqim.”
Katakanlah bahwa aku telah beriman kepada Allah, kemudian istiqomahlah. (HR. Muslim)

Kalimat itu singkat dan pendek untuk disampaikan. Namun tahukah, kalimat yang singkat itu sejatinya telah mengandung makna berislam secara keseluruhan. Singkat. Namun pengamalannya tidaklah sesingkat mengucapkannya. Butuh realisasi seumur hidup untuk menjalankannya.

Ya, sama sekali nggak gampang. Dan Rasulullah tahu benar akan hal itu. Maka, Beliau Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda ketika ada yang bertanya; “Wahai Rosulullah, amalan apa yang paling baik dilakukan?”

“Amalan yang dikerjakan terus menerus meskipun sedikit.“ jawab Beliau Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.

Tak perlu muluk-muluk, namun konsisten untuk menjalankannya menjadi lebih baik, daripada banyak namun cuma sekali. Lebih baik lagi banyak, namun konsisten.

Karena tak mudah, Allah tak pernah memaksakan hamba-Nya dengan mewajibkan amalan yang banyak secara terus menerus. Sebab Allah tahu, manusia itu tempatnya bosan dan lalai. Butuh azzam yang kuat untuk melazimi suatu amal baik.

Karena iman itu fluktuaktiv. Nggak stabil. Banyak futurnya daripada semangatnya. Lebih sering yangqus, daripada yazid-nya.

Maka, bertahap saja. Pelan-pelan. Kalau udah mulai terbiasa, frekuensinya dinaikkan. Sedikit-sedikit. Dilazimi. Nggak usah berlebihan, takutnya nanti ketika futur, imannya lagi low, malah ditinggalkan sama sekali.  Terus harus ngulang dan mulai dari awal lagi. Padahal untuk memulai lagi, itupun perlu perjuangan sendiri.

Berat, tapi nggak papa. Bukan berarti nggak bisa. Awalnya mungkin memang terpaksa, lama-lama terbiasa, terus jadi hobi. Kemudian mengendap tanpa sadar. Hingga bermetamorfosa menjadi sebuah karakter dan akhlak. Biidznillah..
__
#day15
#30haribercerita
@zahidaannayra_

  

Istiqomah part 1



Ternyata, istiqomah itu nggak gampang ya? Untuk konsisten terhadap satu hal, terlebih satu pekerjaan selama terus menerus itu sama sekali nggak semudah bayangan awalnya.

Contoh kecil yang sedang aku alami adalah, di program #30haribercerita ala aku sendiri, sekarang harusnya udah sampe hari ke 15 dari 30 hari rencana posting everyday. Tapi kenyataannya?😕

Postingan aku baru sampe di hari ke 13. Itupun aku rasa banyak banget yang mayoritas kerjanya marathon. Lihat aja tanggal yang tertera, sering aku posting dalam sehari dua, atau bahkan tiga. Daripada tepat waktu, aku lebih sering qadha’.😔

Adaa aja alesannya buat nggak nulis dalam sehari. Belum ada idelah, nggak mood lah, banyak tugas lah, nggak ada waktu laah..🙇

Ah, kadang capek sendiri sama alibi-alibi yang terus menerus dihadirkan sama diri sendiri; seorang cewek labil dan mood-mood-an alias moody. Nggak kehitung udah berapa kali aku berniat berhenti dari program #30haribercerita ini. Karena memang banyaknya tugas kuliah, makalah, turats dan lain sebagainya yang juga menguji kesabaran di setiap harinya.

Kalo udah ngadep laptop, rasanya seolah-olah semuanya melambai-lambai minta disambangi. Dan akhirnya lihat laptop pun bawaannya jadi horror.😩

But, the show must go on, right? Kalo dihindari terus, yang ada semuanya justru tambah numpuk dan nggak akan ada habisnya. Kalo cuma dipikirin tanpa mau gerak dan action buat nyelesaiin satu satu, kapan selesainya?

__

Seringkali manusia terlalu disibukkan oleh pikiran-pikiran terhadap masalah yang ada, tanpa memikirkan jalan keluar dan penyelesaian dari masalah itu sendiri. Sehingga bukan titik terang yang didapatkan, tapi justru pening dan stress berkepanjangan yang semakin menggentayangi otak dan pikiran.

Akhirnya, meskipun jatuh bangun, tersaruk-saruk, sampe ngesot-ngesot, aku memutuskan untuk tetep berjuang menuntaskan apa yang udah aku mulai. Meskipun kelihatannya masa 30 hari yang sejatinya tinggal tersisa setengahnya lagi itu terjal pake banget prosesnya dan mungkin sering terpaksa harus rapel postingan, no problem lah. Better yes than not at all, right?

Daripada aku berhenti terus sama sekali nggak nulis, atau mungkin tetep nulis tapi nggak terkontrol, lebih baik dilanjutkan apa yang udah setengah jalan ini, kan? -ngomong sama diri sendiri-

Jujur aja, adanya program #30haribercerita ini seakan menjadi pendorong sekaligus tuntutan bagi otak untuk terus memproduksi ide untuk dituangkan. And honestly it’s not easy at all. Butuh kesabaran ekstra –buat aku- untuk tetap konsisten pada jalan yang udah aku putuskan untuk melaluinya. Jadi, nggak tanggung jawab banget kalo akhirnya aku ambil langkah  cut and bear it in the middle of the road. Its’not responsible, dude! –masih ngoceh sendiri-

“Sekarang rajin posting ya Kak, jadi semangat baca blog Kakak lagi..”

“Lagi nulis yaa, aku tunggu postingan selanjutnya ya..”

“Masya Allah ya kamu, tugas kuliah bejibun gini, masih aja rajin posting.”

“Semangat ya, aku tetep stay dan baca tulisan-tulisan kamu kok.”

Aahh, terima kasih buat kalian semua yang udah jadi penyemangat di sela-sela perjuangan dan uring-uringan aku masa-masa ini. Adanya respon dan komentar dari pembaca itu udah jadi satu suntikan tersendiri buat aku untuk tetep nulis on the track, meskipun harus ugal-ugalan like this. Setidaknya, masih ada alasan bagiku untuk tetap posting di setiap harinya.💖

Jadi, readers yang kucintai..💝😍

Jangan pernah bosen buat mampir kesini ya. Kasih komentar yang membangun untuk setiap tulisanku yang masih alakadarnya ini. Siapa tau mampu menjadi perbaikan bagiku kedepannya.

Tanpa kalian, tulisanku tak akan bermakna apa-apa, pun tak bermanfaat bagi siapa-siapa -selain diriku sendiri-. Saran, masukan dan kritik dari kalian adalah suatu hal yang selalu aku tunggu-tunggu kehadirannya. Jadi, jangan pernah bosen ya..


Luv u..

-zahida-

__
*btw, jangan sungkan-sungkan buat ninggalin komentar ya.. sekedar say hi juga aku udah bahagia kok..😄

#day13
#30haribercerita