Senin, 26 September 2016

Walked Away


Kau ..,
selalunya begitu
hadir, kemudian pergi

ada,
kemudian tiada

seperti angin lalu yang berhembus
entah bermuara di mana

pun bermula dari mana

menyapu tempat-tempat tinggi
tak menentu,
terbang rendah

tak melewatkan sehelai rumput
menjadikannya bergoyang

kemudian kau tinggalkan,
lagi

Seperti lebah yang pergi
tika cecap tak lagi murni
hambar,

tanpa rasa

Ada yang baru, kau pergi
carik yang lama telah lunglai

tanpa menoleh
barang sejenak

abai,
tak peduli

Kau;
jangan pernah datang,
jika tak ingin kembali_


@Ra~ 

Rabu, 31 Agustus 2016

Bagimu Syurga


 Image result for gambar jangan marah


Ada kalanya, diam menjadi pilihan terbaik, ketika tak ada hal lagi yang bisa kita lakukan. Menjadi lebih baik, ketika selangkah saja kita bergerak, justru segalanya akan menjadi lebih runyam. Dan permasalahan akan semakin rumit untuk diselesaikan.

Seperti ampas. Semakin kita mengaduknya, semakin bercampurlah ia. Menyatu dengan air yang tak lagi jernih. Semakin sulit  bagi kita untuk memilahnya. Memisahkan mana yang seharusnya dibuang, atau dibiarkan begitu saja.

Dan menunggu, mungkin pilihan terbaik untuk saat itu. Tunggulah agar semuanya reda. Tunggulah, sampai semuanya mengendap. Tenang, dan jernih. Biarkan waktu yang akan meredam semua ampas itu.
Nanti, jika semuanya benar-benar telah mengendap, jangan sedikitpun kau menyentuh endapan itu, meski hanya dengan sebuah sentilan lembut, apalagi mengaduknya.

Biarkan, nikmati saja jernih yang ada. Bukankah kau telah menunggu waktu untuk membuatnya tak lagi bercampur, kotor, dan tak bisa dinikmati?

Banyak hal-hal yang terjadi belakangan ini. Membuat sedikit banyak pikiran tertuntut untuk kerja lebih ekstra dari biasanya. Tak dapat kupungkiri, di sela penat yang kian memuncak, frekuensi emosi pun meningkat. Menuntut kesabaran serta pengambilan sikap yang tak lagi mudah. Perlakuan di luar kehendak pun seringkali terjadi. Lepas kontrol akan penstabilan emosi. Betapa tak mudah titah yang bahkan Rosulullah ta'kid, ketika sahabatnya meminta  nasihat kepadanya; Jangan marah! Jangan marah!

Image result for gambar jangan marah

Singkat, padat, dan jelas. Namun realisasinya, sangat tidak mudah. Latihannya membutuhkan waktu yang tidak sebentar. Dengan ujian yang beragam. Tentunya terus meningkat, setara dengan level keimanan kita. Mampukah? Sesabar apakah kita?

Iyakah, masalah yang kita hadapi seberat ayahanda Ya'kub alaihissalam, yang didustai oleh kesepuluh anak-anaknya perihal kematian Yusuf?

Atau, apakah masalah yang membuat kita marah itu, sudah sesakit Nabi Muhammad, ketika berdakwah, namun diusir dan dilempari batu?

Bahkan beliau pun mendoakan kebaikan kepada mereka, ketika malaikat bahkan menawarkan untuk menjatuhkan gunung kepada mereka yang mengusirnya.

Diam, terkadang menjadi lebih baik. Dengan kerendahan hati serta lapang yang kita luaskan untuk meredam segalanya. Diam,, namun doa tak pernah berhenti merapal syahdu. Diam, namun dengan membangun bata demi bata kesabaran yang lebih tinggi dari sebelumnya. Berharap senyum akan tetap terukir, meski frekuensi kemarahan, telah mencapai ubun-ubun pertahananan.

Meredam amarah, sama dengan menggagalkan upaya syaithan untuk menguasai hati, jiwa, dan pikiran kita. Membuatnya gagal dengan segala bisikin serta hembusan yang meniadai dinding kesabaran. Membuat hati kita lebih lapang, serta derajat kesabaran itu, akan naik satu tingkat dibanding sebelumnya.

Dalam mengelola emosi, Aristoteles punya bahasa sederhana,
"Untuk marah itu memang mudah. Yang sulit, adalah marah pada saat yang tepat, dari orang yang tepat, kepada orang yang tepat, dalam porsi yang tepat."

Selamat memposisikan diri, mengelola emosi dengan keutuhan sadar yang mendominasi ... ;)

Image result for gambar jangan marah
Jangan marah, bagimu syurga ..



@zahidaannayra_
#selfreminder

Jumat, 26 Agustus 2016

Fase Ketegaran


Image result for gambar bayangan



Di bumi yang kau jejak, akan kau lewati satu fase yang mungkin terasa pahit, namun harganya sangat mahal. Fase yang menghadiahkanmu sekeping nilai, bahwa kehidupan sejati bukan buat bermanja, bermewah diri, dan melupakan nasib orang yang kurang beruntung. Hanya di sana kau dapat belajar, bahwa hidup ini adalah bagaimana memaknai setiap keadaan dan merayakan semua peristiwa. Bukan tentang pujian dan cemooh orang, bukan juga tentang harapan diluar dirimu.

Fase itu akan membisikkanmu kalimat-kalimat yang bahkan belum pernah kau dengar sebelumnya;
Tegarlah. Angkat pandanganmu. Tetaplah melangkah dan nikmati tiap bebanmu. Jika jalanmu terasa makin berat, itu berarti kau sedang berjalan ke puncak. Tapi ingatlah, hanya curamnya bukit yang bisa menghantarkanmu lebih dekat ke puncak mimpi. Lebih dekat dengan cahaya surya, sekaligus lebih leluasa memandang ke segala penjuru cakrawala.


Image result for gambar bayangan

Fase itu mungkin akan akan mendamparkanmu pada pantai sepi, tapi ia lebih berharga dari bangku sekolah yang ramai. Mungkin angin yang galau mengancam semangat yang ringkih. Tetapi apabila mampu melewatinya, maka kehangatan akan menemanimu di belahan bumi manapun kau hidup.

Setiap orang, pernah disapa fase itu, karena keadilan Tuhan akan memberikan kesempatan secara merata pada semua. Tetapi hanya sebagian yang dapat menangkapnya menjadi bekal yang bernilai. Selebihnya, menyerah, mengeluh, menyalahkan Tuhan, sebab ia digoda oleh setan-setan jalanan.

Setan-setan jalanan itu ialah menggantungkan mimpi kepada makhluk; berupa harap pujian atau takut cemoohan orang lain. Ada banyak yang mengerti mana jalan kebenaran yang patut diperjuangkan tetapi menyerah karena berharap pujian atau tidak tahan dengan cibiran.

Setan jalanan itu ialah berprasangka buruk kepada oranglain. Apapun kebaikan mereka diartikan negatif. Itu berbahaya dan membuat rapuh, maka ia juga setan di jalan ketegaran.

Setan jalanan itu, ialah kedengkian atas kelebihan orang lain, sikap ego ingin menjatuhkan oranglain, merasa lebih baik dari orang lain, atau minder karena merasa oranglain lebih unggul.

Setan jalanan itu ... masih banyak lagi, sebab setiap lembah dan musim punya setan-setan jalanannya tersendiri. Mereka bertugas melemahkanmu melewati fase itu. Fase yang mungkin terasa pahit, namun harganya sangat mahal; itulah Fase Berjuang.


_
Ankara, 13 Desember 2011
Faris BQ_


Kamis, 25 Agustus 2016

Melogikakan Rasa


Image result for gambar bayangan


Ada sebagian rasa yang selamanya tidak bisa kau mengerti,
maka tidak perlu berbuat bodoh untuk mencoba memahaminya

Ada sebagian rasa yang selamanya tidak bisa kau elak,
maka tidak perlu berlagak jagoan untuk dapat menyingkirkannya

Ada beberapa rasa yang tidak bisa dipaksa hadir,
maka tidak berguna segala ancaman dan rayuan untuk membuatnya datang
 
Ada rasa yang membuatmu kuat, ada pula yang membuatmu lemah
Ada yang bisa disembunyikan, ada yang norak tidak peduli

Ada rasa yang tidak bisa dibuat main-main seperti bermain api dan air, 
atau mawar dan duri, atau bermain-main di dunia fantasi

Banyak yang mengabaikan,
tapi banyak juga yang menyadari

Engkau bagaimana??

_Faris BQ_ 



Imperium Maktab,
menjelang tengah malam_



  

Jumat, 19 Agustus 2016

Percaya

 https://www.google.com/url?sa=i&rct=j&q=&esrc=s&source=images&cd=&cad=rja&uact=8&ved=0ahUKEwi__pPilM3OAhXKvY8KHQVABHwQjRwIBw&url=http%3A%2F%2Fkartun.co%2Fgambar-kartun-romantis.html&bvm=bv.129759880,d.c2I&psig=AFQjCNET5Bwp7lGRFqwBipq_4H8FEecYVw&ust=1471685074061470

Perempuan itu menepi. Menunggu kekasihnya yang ada di atas sana. Sebuah panggung peluncuran bukunya yang pertama. Ditemani seorang panitia yang membimbingnya ke sebuah meja di sisi lain ruangan itu. Ia menunggu dengan sabar. Sembari melepas penat seharian ini. Senyumnya menyimpul bangga diantara peluh yang menetes. Setelah berdesakan, akhirnya ia mampu keluar dari kerumunan penggemar yang mengantri foto berikut tanda tangan dari sang penulis.

"Selamat ya, Mbak, akhirnya tulisan-tulisan suami mbak dalam blog yang selalu ditunggu oleh pembaca, berhasil juga dibukukan. Saya termasuk penggemar berat tulisannya loh mbak ..." ujar panitia yang menemaninya tadi. Membuka pembicaraan.

Perempuan itu tersenyum, sudut matanya mencuri pandang pada kekasihnya. Meski sekilas, tatapan mereka bertemu. Ia sedikit jengah, suaminya berada di antara para penggemar yang mayoritas adalah wanita. Meski tetap menjaga jarak, banyak dari mereka yang meminta foto berdua, bersama buku yang ditulisnya. Tersenyum bangga, mampu bertemu langsung dengan sang idola.

Ia mengalihkan pandangan, mengambil botol dari tas dan meminumnya. Menuntaskan dahaga yang membuat tenggorokannya kering.

Ting!

Sebuah pesan masuk. Matanya menyipit, memandang nama yang tertera di layar handphone.

"Jangan cemburu ya, Sayaang ... aku terlanjur jatuh cinta dengan kesetiaanmu. Hanya ada satu wanita yang berkali-kali menarik perhatianku sedari tadi. Membuatku terus-terusan menoleh ke sudut ruangan ini.

Ada kamu disana."

Perempuan itu tersipu. Tak mampu menyembunyikan senyum yang melengkung di bibirnya. Lagi; ia mencuri pandang ke atas panggung. Mencari sosok yang selalu mampu meluluhkan pertahanannya. Matanya bergerak kesana kemari. Mencari satu-satunya objek yang menarik perhatiannya.

NIHIL.
Yang dicarinya tak lagi ada di tempatnya. Hanya ada peserta yang tersisa, berfoto bersama banner yang ada di panggung utama.

"Cari siapa, sayang?"

Ia tergagap. Hatinya mendadak berdebar. Suara itu, selalu datang tiba-tiba. Memberinya kejutan yang selalu mampu memacu jantungnya untuk berdetak lebih cepat.
Dia; kekasihnya, suami yang kepadanya ia labuhkan cintanya.

__

 

Rabu, 17 Agustus 2016

Delayed

Image result for gambar kartun tidur



Hayy guys ...
Ceritanya tadi sore, gue baru aja dapet inspirasi buat nulis. Tapi, berhubung satu dan lain hal, akhirnya tertunda hingga jam sepuluh malem.

Nah, baru aja nih buka laptop, ni mata udah kayak dikipasin dari segala penjuru. Walhasil, layaknya putri malu yang disentuh kemudian nutup, ini mata gue udah redup se-redup-redupnya. Tinggal 5 watt maybe. :v

Ditambah kasur, bantal dan guling serasa melambai-lambai untuk didatengin. Jadi, gue tunda dulu post tulisannya sampai besok, Insya Allah.

Ingetin yak guys, kali aja gue lupa. (Bilang aja melupakan diri. Wkwk...)

Bye, nice dream all ...
Jangan lupa wudhu dan baca doa sebelum bobok ...
Salam damai dari Pulau Kapuk! ;o


Image result for gambar kartun tidur waktu belajar

@zahidaannayra_

Kamis, 11 Agustus 2016

Like Love Your Self

pic from google



"Maunya apa sih?" gerutu Layla atas sikap temannya yang membuatnya bingung belakangan ini. Mencipta kerenggangan ukhuwah yang selama ini berusaha ia jaga.

"Aku harus bersikap gimana sama dia?" teriaknya kesal.
__

Kasus di atas, saya rasa bukan hanya satu-dua orang yang mengalaminya.

Tentang bagaimana kita bergaul, menjadi hal yang banyak dirisaukan oleh manusia. Begini, salah. Begitu salah. Mencipta kebingungan dalam bersikap yang seharusnya, antara satu dengan yang lain. Hingga kemudian kita takut untuk melakukan sesuatu. Tak lagi berani menyapa, berbuat baik, ataupun bergaul seperti biasa.

Why it can happens?

Kurangnya kepekaan untuk saling memahami satu sama lain, mungkin bisa menjadi salah satu penyebabnya. Ditambah adanya prasangka yang membuat segalanya semakin runyam. Plus kegengsian untuk saling berlapang dada.
It's complicated, right? ^^

Then, bagaimana seharusnya kita bersikap?

Tidak rumit sebenarnya. Bersikaplah sebagaimana kau ingin oranglain itu bersikap kepadamu. Berbuat baiklah sebagaimana kau ingin oranglain berbuat baik padamu. Jaga sikapmu, seperti kau tak ingin oranglain bersikap seperti itu terhadapmu. Cintai mereka, sebagaimana kau mencintai dirimu sendiri.

Bukankah Rosulullah pun telah menyampaikan sabdanya?

"Tidaklah sempurna iman seseorang diantara kalian hingga kalian mencintai saudaranya, sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri." (HR.Bukhari-Muslim)

Mencintai oranglain, seperti pun kita mencintai diri sendiri bukanlah perkara yang ringan. Susah-susah gampang. Banyak susahnya, jika kita masih saja mengedepankan ego serta rasa gengsi yang tinggi.
Begitupun, mudah; bagi mereka yang tawadhu', serta mudah untuk berlapang dada.

Semua butuh proses. Namun, proses pun tak akan berjalan lancar jika kita tidak memulainya, bukan?
Tinggal bagaimana kita akan memilih jalannya. Meluaskan hati untuk lebih berlapang dada, ataukah keukeuh mempertahankan ego sendiri?

Its your choise!


_zahida




Jumat, 01 Juli 2016

Keluarga Kamboja #1_Jengkol

Ini adalah tantangan permainan TRUTH OR DARE yang diadakan dalam grup menulis One Week One Paper (OWOP) untuk melanjutkan cerita dari kisah perjalanan KELUARGA KAMBOJA.
Seluruh hal-hal negatif yang ada dalam cerita ini, mohon jangan ditiru ya ^^. Silakan diambil hikmahnya saja, Karena saya pun sedang berusaha keras untuk belajar melanjutkan cerita ini. Maafkan ke-absurd-an yang ada. Dibuat have fun aja, ya ... Hhe.

Karena banyaknya tokoh dalam cerita, silsilah keluarga Kamboja bisa dibaca disini_


 __

"Enyaaak ... huaaaa ... Nyaaak ..." suara tangis Julia memecah keheningan suasana makan malam di meja besar keluarga Kamboja.

16 pasang mata yang sedang khusuk dengan makanannya sontak memusatkan perhatiannya ke arah sumber suara. Nica, sebagai ibu Julia langsung memasang wajah menyelidik, apakah gerangan yang membuat anak bungsunya itu menangis. Ketegangan semakin menjadi.

"Ada apa, sayang? Bilang sama mama, siapa yang berani ganggu kamu?" ujar Nica dengan suara mengancam, sembari memutari meja makan berukuran 10x10 meter itu.

"Jengkol dedek diambil sama Kak Putri, Maa ... huaaa.." ujar Julia sambil tangan kanannya menunjuk ke arah Putri di sebelahnya. Sementara tangan kirinya sibuk memeluk sisa jengkol yang masih ia punya. Memasukkannya satu-satu ke kantong bajunya, agar Putri tidak bisa mencurinya lagi.

Mata Nica menatap tajam ke arah Putri. Sementara Putri menunduk ketakutan. Jengkol milik Julia yang diambilnya tadi, buru-buru ia telan sekali makan.

"Hey, keluarkan jengkol yang kamu makan itu!" hardik Nica kepada Putri.

Happy, sebagai ibu dari Putri, merasa tidak terima atas perlakuan madunya itu terhadap anaknya. Ia serta merta menghampiri Nica dan mendorongnya.

"Apa-apaan kamu? Beraninya sama anak kecil! Sini, hadepin gue, kalo lo berani!" tantang Happy sambil menyingsingkan lengan.

Nica yang sudah kebakaran jenggot daritadi, tanpa ba bi bu, reflek menjambak rambut Happy dengan tangannya yang kotor bekas semur jengkol.

"Enyak.. enyak.. enyaak.." sorak Ulfah, Amin, Ari, Kenti, dan Julia, yang tidak lain dan tidak bukan adalah anak-anak dari Nica.

Sementara suara cempreng melengking tinggi keluar dari mulut kecil Putri;

"Emaak.. emakk.. emaak.." Pendukung tunggal bertepuk tangan.

Acara gulat live di ruang makan berlangsung seru dengan suporter masing-masing, ketika tiba-tiba ..,

Braakk!!

Suara meja digebrak dengan keras.

"Stooop.. stooop! Nica, pergi dan bawa anak-anakmu ke kamar!" teriak Bunda Wahyu selaku mertua yang sayangnya tujuh langit kepada Happy.

"Tapi, Ma,"

"Nggak ada tapi-tapian, pergi, dan bawa anak-anakmu sekarang! Bikin pusing aja!"

Tanpa berani melawan mertuanya itu, dengan bersungut-sungut, Nica naik ke lantai atas beserta anak-anak yang berbaris sepeti bebek di belakangnya.

"Awas lo!" ancam Kenti di telinga Putri sebelum ia beranjak. Sementara Putri, bukannya takut, ia malah berjoget-joget sembari menjulurkan lidahnya.

Kenti makin kebakaran hidung. Ia berjanji akan membalaskan dendamnya, atas jengkol miliknya yang belum habis di meja makan. Dengan terpaksa, ia meninggalkan jengkol kesukaannya yang masih melambai-lambai di atas piringnya yang belum habis.
__

"Nyak, semua ini, nggak bisa kita biarin gitu aja!" Kenti langsung nyerocos panjang lebar tanpa jeda, begitu mereka sampai di kamar. "kita kan nggak salah, Nyak! Kok kita yang diusir sih?"

"Kita harus susun rencana nih." Ujar Ari diamini Nica dan anak-anaknya.

Tiba-tiba, Kenti tersenyum licik. Seperti menemukan ide yang tiba-tiba muncul di kepala jenongnya. Ia menjentikkan jari; senang. Air mukanya menunjukkan rasa tidak sabar.

"Lihat saja besok, Putri!" gumamnya penuh kemenangan.
__

Apa rencana Kenti kepada Putri untuk membalaskan dendamnya? Ikuti terus kisah perjalanan Keluarga Kamboja ya! :)





Silsilah Keluarga Kamboja

Image result for gambar animasi keluarga besar beserta anak-anaknya
sumber; google

== SILSILAH KELUARGA KAMBOJA ==

Nenek: Bunda Wahyu (ibunya Uways)
Ayah : Uways (kerja di luar negeri)
Ibu ke-1: Happy
Ibu ke-2: Nica
Ibu ke-3: Mitsa
Paklik: Suheil (adiknya Nica, sekaligus satpam)
Bulik : Nisrul (adiknya Uways)
Pakdhe :
- Hafidh (abangnya Happy)
- Faishal (abangnya Mitsa)
Budhe : Ayu (mbaknya Uways)
Anak ke-1: Ulfah anaknya Nica (udah jadi istrinya bule. Tinggal di negaranya suami)
Anak ke-2: Amin anaknya Nica
Anak ke-3: Ari anaknya Nica
Anak ke-4: Kenti anaknya Nica
Anak ke-5: Putri anaknya Happy
Anak ke-6: Julia anaknya Nica (diculik tapi udah balik)
Anak Bungsu: Tia anaknya Mitsa
Lainnya:
Ratna: Anaknya Faishal
Enie: Anaknya tetangga yang dijadikan pembantu sama ibu tirinya

Rumah Kita 3 Lantai.
Kamarnya ada 20. Di Lantai 1, 6 Kamar. Lantai 2, 7 Kamar. Lantai 3, 7 Kamar.

***

NARASI AWAL KELUARGA KAMBOJA

Suatu hari, hiduplah seorang lelaki kaya raya bernama Uways. Dia ingin menikah. Teman masa kuliahnya, Nica, sudah jatuh cinta dengannya sejak lama, jadi dia mengajukan diri menjadi istri Uways. Tapi ibunya Uways, Bunda Agung Wahyu, menolak mentah-mentah dan memilih Happy sebagai calon menantunya karena silsilah Happy bersambung ke keluarga keraton.

Tapi sayang, pasangan Happy dan Uways belum juga dikaruniai anak. Nica kembali mengajukan proposal nikah, dan akhirnya dia diterima menjadi istri kedua. Bagaikan tikus, Nica melahirkan banyak anak untuk Uways. Happy iri dan bertahanuts di Gua Selarong selama tujuh tahun agar punya anak.

Selama Happy tidak ada, Nica berambisi menguasai rumah, tapi tidak bisa karena ada Bunda Wahyu. Oleh karenanya, Nica meracuni kucing Bunda Wahyu. Terpaksa Bunda Wahyu memeriksakan kucingnya di Singapura untuk kemoterapi. Nica pun berkuasa. Nica menempatkan adiknya, Suhel, menjadi satpam agar kekuasaannya di rumah itu bertambah kuat.

Tetapi Happy kembali dan setahun kemudian, berhasil memiliki anak. Nica iri dan akhirnya melahirkan anak juga, Julia. Happy iri. Dia kemudian mengenalkan Suhel dengan Enie, membuat Suhel jatuh cinta padanya dan tidak fokus bekerja. Saat satpam lengah, Happy menyuruh orang untuk menculik Julia.

Ketegangan Happy dan Nica membuat Uways stres. Suatu saat, dia bertemu Mitsa, penjual lipstik keliling, dan jatuh cinta padanya. Tak lama, mereka menikah. Sadar bahwa kedudukannya di rumah tidak kuat, Mitsa membawa abangnya, Faishal, dan putrinya, Ratna, untuk tinggal di rumah itu untuk menguatkan kedudukannya. Tak mau kalah, Happy juga memanggil abangnya, Hafidh, sebagai akuntan keluarga, karena Happy merasa bahwa dia sebagai istri paling tua harus menguasai keuangan keluarga.

Lantas, bagaimanakah kisah selanjutnya?
Baca kelanjutan perjalanan Keluarga Kamboja disini.

Sabtu, 14 Mei 2016

A Public Secret

sumber; google

Orang memerlukan dua tahun untuk berbicara,
tetapi limapuluh tahun untuk belajar tutup mulut.

_Ernest Hemingway_

...
 
"Ssstt, sini deh, tak kasih tau. Tapi kamu janji ya, jangan bilangin rahasia ini ke siapapun." ujar Aira kepada Vika.

"Iya deh, rahasia apaan?" tanya Vika penasaran.

"Tapi janji ya, bakal jaga rahasia ini," Aira meminta kepastian lagi.

"Iya, iya ... udah cepetan kasih tau deh, ada apa?"

"Tadi aku nggak sengaja denger, kalau ternyata, Nita itu bukan anak kandung Pak Rendy dan Bu Rani." kabar Aira memelankan suaranya.

"Hah? Masa' sih?" pekik Vika kaget.

"Ssttt ... jangan keras-keras, Vik. Tapi, Nita nggak tahu akan hal ini. Jadi, kamu jangan bilang-bilang ya. Kasihan dia." Aira berbisik lagi.

Vika hanya manggut-manggut dengan air muka yang masih tidak percaya.

__

Beberapa waktu berlalu. Dan berita itu dengan cepatnya menyebar hingga ke telinga Nita. Aira mendapati Nita tersedu di halaman belakang sekolah. Basa-basi, Aira mendekatinya dan menanyakan perihal kesedihannya.

"Ra, gimana rasanya kalau ternyata kamu bukan anak kandung dari kedua orangtuamu? Dan kamu tahu akan hal itu, bukan dari mereka, melainkan dari orang lain. Bagaimana perasaanmu, Ra?" tanya Nita di sela isak tangisnya.

Aira terkejut bukan main. Bagaimana mungkin Nita tahu akan hal itu? Ia yakin, tak ada orang lain yang tahu perkara ini, selain dirinya dan Vika. Apa mungkin, Vika?

Sejenak, ia menyesali telah memberitahukan hal penting yang di dengarnya itu kepada orang lain. Tidak seharusnya ia berbuat tanpa berpikir panjang atas kemungkinan-kemungkinan yang terjadi kedepannya.

Usut punya usut, teryata Vika memberitahukan rahasia itu kepada salah seorang teman kepercayaannya, dengan kata kunci; "Jangan bilang siapa-siapa ya ..." 
Dan teman Vika pun, -tanpa sepengetahuan Vika tentunya- memberitahukannya lagi kepada orang lain, dengan kata kunci yang sama. Begitupun seterusnya, hingga berita itu akhirnya sampai ke telinga Nita.

Rahasia itu, bukan lagi menjadi sebuah rahasia pribadi, namun telah tersebar menjadi rahasia umum.

__

Begitulah, kebanyakan dari kita lalai dengan sebuah amanah. Sangsi akan sebuah janji. Menganggap enteng segala hal dengan sebuah kata kunci yang seolah aman dan bisa menjaga kerahasiaan akan sebuah amanah yang dibebankan.

"Jangan bilang siapa-siapa ya ..."

Kita tidak tahu akan hati seseorang. Bisa jadi, kita melihatnya sebagai seorang yang amanah, bisa menjaga rahasia, dan menepati janji. Kita terlanjur percaya padanya. Kemudian menceritakan perihal rahasia yang sangat-sangat penting. Yang sebenarnya, kita hanya perlu menjaganya untuk diri kita sendiri, tanpa harus memberitahukannya kepada orang lain.

Tanpa kita tahu, orang yang kita percaya itu pun, mempunyai orang lain yang juga sangat ia percaya. Kemudian ia memberitahukan rahasia itu kepada orang tersebut, disertai embel-embel; 'Jangan bilang siapa-siapa ya..'
Begitu seterusnya. Hingga berita itu benar-benar menyebar ke banyak orang. Meskipun tidak menimbulkan kasak-kusuk atau keramaian, namun setiap orang telah mengetahui rahasia itu.

Pernahkah kalian mengalami hal seperti itu? Semoga tidak.
Marilah kita berlatih untuk menjadi pribadi yang amanah, menepati janji, dan selalu berpikir matang sebelum melakukan segala sesuatu.

Jangan mudah mengumbar rahasia, kepada siapapun itu. Jika kau tak ingin rahasia perihal dirimu tersebar, berlatihlah untuk menjaga rahasia orang lain. Jika mereka mengatakan untuk 'jagalah', maka kau harus menjaganya, dari siapapun. Hatta mereka yang benar-benar engkau percaya. Wallahu a'lam.

Semoga bermanfaat_

__
@zahidaannayra~

Minggu, 01 Mei 2016

Letter For You

sumber: google

Assalamua'alaikum ...

Aah, setelah sekian lama, akhirnya saya memberanikan diri juga untuk mengintip blog ini.
Setelah sekian lama ditinggalkan
Setelah sekian lama dibiarkan begitu saja
Setelah sekian lama, tidak dijamah.

Tak ada update
Tak ada tulisan yang ditulis
Atau bahkan, sekedar dilihat
Dan viewers sepi. Hehe ...

Maafkan, karena sebenarnya saya orangnya moody. Hehe ... (yang ini jangan ditiru yak, karena saya pun manusia biasa-alesan- ^^)
Jadinya gini deh. Bulan April, hanya tiga tulisan yang berhasil nangkring di beranda saya. Naif!
Tak ada gunanya penyesalan, karena bagaimanapun, penyesalan itu tidak akan merubah apapun.

Bagaimanapun, yang telah terjadi, tak akan bisa diulang. Yang ada, kita hanya perlu memperbaikinya di depan. Merancang di depan. Agar segalanya yang telah lewat, tak terulang lagi.

Semangat!

__

Well, teman-teman semua ...
Yang masih setia membaca tulisan-tulisan absurd-ku ini, yang nggak capek nyemangatin saya buat nulis lagi, yang setia menunggu dengan pertanyaan yang sama: Kok nggak update tulisan lagi? Tulisan kamu mana? Aku bolak-balik buka blog kamu, tapi masih sama, belum ada tulisan yang diposting lagi ....

Terimakasih. Saya benar-benar mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya. Karena sejatinya, kebahagian terbesar seorang penulis, adalah adanya apresiasi dari pembacanya. Entah itu berupa komentar, kritikan, atau sekedar kehadirannya untuk membaca. 

__

Buat penyemangat saya, kira-kira menurut pendapat kalian semua, kalian itu suka tulisan saya yang seperti apa sih?

Tolong dijawab ya ...
Buat siapapun yang membaca ini, tolong ditulis di kolom komentar ya, seperti apa tulisan yang kalian suka dari saya?

Saya benar-benar berterimakasih, kepada siapapun yang bersedia meluangkan waktu untuk menanggapi pertanyaan saya ini. Sebelum saya menulis lagi, untuk kedepannya.

Saya berharap, semoga tulisan-tulisan saya selama ini, dapat membawa manfaat, bahkan perubahan positif kepada para pembaca semua.

Whatever, yang bagus, semoga bisa diambil manfaatnya. Yang jelek-jelek, jangan ditiru ya ... ^^

__
Sekian dulu dari saya.
Saya tunggu jawabannya ya! :)
Jazakumullah khairan ...
Semoga Allah memudahkan urusan kita semua. Amin. 

__
_01.05.16_
Best Regard,
_Zahida_
 

Minggu, 10 April 2016

Dru, Dan Hilangnya 'Mawar Putih'

Dor!

Ada yang baru nih di OWOP!  Jreng.. Jreng..  Ini dia; Movie Script Blog Tour OWOP.
Kami bukan orang pro yang udah bisa bikin script,  tapi kemauan belajar kami tinggi.  Kalo ada salah-salah dalam penulisan skrip film ini,  mohon maklum yaa... ^^

Ikuti tiap episodenya ya! 😉

Episode 1: Terkuncinya Para Pengunci -  Annisa Fitrianda Putri
Episode 2: Permainan(Akan) Dimulai -  Dini Riyani
Episode 3: Detik-Detik Kematian Radian -  Said Al Khudry
Episode 4: Para Artemis dan Orion Mereka -  Nadita Zairina
Episode 5: Friend Or Foe -  Nana
Episode 6: Menebak Teka-Teki Langit - Evnaya Sofia
Episode 7: Dibalik Rasi Bintang Orion -  Zu
Episode 8: Tragedi Mawar Putih -  Kiki
Episode 9: Genosida! -  Mister Izzy
Episode 10: Radian dan Dru -  Cici
Episode 11: Kenangan Dan Tantangan -  Deasy

Dan ini, episode 12 nya...
Cekidot!
_______________________________

INT: RUANG PENUH RAK BUKU

VO.Rei: Kenapa aku merasa mata-mata yang Dru katakan itu, ada di antara kita? Jika mata-mata itu adalah Wij ..., lalu bagaimana dengan Emily? Apa dia juga ...
Ah, mikir apa sih aku ini. Nggak mungkin lah ... Emily pun korban seperti aku. Lagi pula Dru juga bilang, mata-mata itu dari salah satu pihak pengunci. Lalu, apakah Wij benar-benar ...

SFX. BLAM! Lampu tiba-tiba padam

Em: Aaaaaaaaahhh ... (Reflek memeluk Joe yang ada di sebelahnya)
Cyn: (Memegang tangan Rei erat)

Rei: Hei! Apa-apaan ini? Apalagi yang sedang kalian rencanakan? (Berteriak marah)

SFX. Lampu menyala kembali

Em: (Ekspresi kaget berada dalam pelukan Joe, kemudian langsung melepaskannya. Wajahnya tersipu)

Joe: (Salah tingkah. Namun mencoba tetap cool)

Rei: Wij ... (Wajahnya merah padam memandang ke tempat Wij yang telah menghilang)

Em, Cyn, Joe: (Serentak menoleh kearah Rei memandang. Kemudian terkejut mendapati Wij sudah tidak ada di tempatnya berdiri) Bedebah itu ...

Em: Rei, mapnya ... (Memandang lemas kedua tangannya yang kosong)


CUT. Back To
INT. Ruang penuh tabung

Dru: (napas tersengal, mata mulai meredup)
Jan: Dru, bertahanlah ... (Memandang khawatir)

SFX. Drrr ... Tabung tiba-tiba bergetar

Ar, Jan, Wid: (Panik)

Wid: Hey, apalagi ini? Mengapa tiba-tiba ... (Memegang dada yang tiba-tiba sesak dan seluruh tubuh lemas)

 Jan: Wid, tahanlah emosimu! Tabung itu akan membuatmu tak berdaya jika kau terlalu memaksakan diri ... (Memandang Wid cemas)

Ar: (Memandang ke arah Dru) Dru ..., kenapa kau diam saja?

Dru: (Tak sadarkan diri)

Jan: (Panik menyadari Dru dan Wid tak lagi bergerak) Ada apa ini sebenarnya?

VO. Jan: Mungkinkah mereka akan tetap membunuh kami semua, meskipun anak-anak sedang berusaha memecahkan kode-kode itu untuk membebaskan kita?!

Jan : Tapi, kenapa aku pun merasa sangat lemas ... (Matanya terpejam tiba-tiba)

Ar: Ada apa sebenarnya ... (Terbatuk, kemudian lemas)

Dru, Ar, Jan, Wid: (Tak sadarkan diri)


INT. Ruang Pengendali Rahasia

VO. Mr. Locked: Aku harus bergegas. Sebelum Al kembali. Dru tetap harus hidup. Aku akan tetap menjaga anak-anakmu, kawan ... sebagaimana pesan terakhirmu sebelum kau pergi ... (Membayangkan dr. Niko ada di hadapannya)


INT. Ruang penuh Tabung
SFX. KLIK. Suara pintu dibuka. Ruangan Hening

Al: (Melenggang masuk, bertepuk tangan) Hoii! Bisa-bisanya kalian tidur, disaat anak-anak kalian berjuang untuk menyelamatkan nyawa kalian? (Tersenyum mengejek)

Jan,Wid: (Membuka mata, masih lemas)

Wid: (Menoleh ke tabung Dru yang kini penuh air keruh berwarna merah) Dru!! (Memandang tak percaya)

Jan: Dru ... (Bergumam lemas)

Al: (Melihat tabung Dru dengan pandangan tak percaya)
VO. Al: Bagaimana mungkin? Jangan-jangan ...


CUT. Back To
INT. Ruangan Putih Rahasia

Dru: (Terbaring lemah dengan selang oksigen di hidungnya)

Mr. Locked: Istirahatlah dengan tenang, Dru ... Bagaimanapun, aku tidak akan mengkhianati pengorbanan ayahmu ... (Mengelus rambut Dru dengan lembut)


CUT. Back To
INT. Ruang Penuh Rak Buku

Rei: (Terperangah mendapati map Mawar Putih tak lagi ada di tangan Emily) Em, bagaimana bisa? Aaarrgghh ... (Berbalik membelakangi Em, mengepalkan tangan, kemudian membuang tinju ke udara)

Em: (Masih terdiam dengan ekspresi shocked) A-aa..ku ...(Terbata ketakutan)

Rei: (Maju mendekat kearah Em) Kau tahu, betapa sulitnya kita mendapatkan map itu, dan betapa pentingnya map itu bagi keselamatan kakakku, ayah mereka, dan juga ibumu! (Memberikan penekanan pada kata terakhir dengan telunjuk mengarah ke Em)

Rei: Gara-gara kamu yang penakut, sampai kamu pun nggak sadar map itu dirampas dari tanganmu! Aaaahhh, seharusnya map itu tidak perlu kupercayakan untuk kamu bawa, Em!

Em: (Melangkah mundur perlahan sambil menunduk)

Rei: Sekarang kita bisa apa? Mungkip map itu adalah tujuan dari pria bertopeng itu, untuk kemudian bisa menjadi tebusan bagi keluarga kita yang ditahan! Kalau udah hilang gini, kita bisa apa, Em? Jawab!! (Mukanya merah padam, sambil membentak Emily)

Joe: (Menarik Emily ke belakang punggungnya) Cukup, Rei! Kamu sadar nggak sih, apa yang kamu omongin?

Em: (Bersembunyi di belakang punggung Joe sambil menggamit tangan Joe erat-erat)

Joe: (Menggenggam tangan Em, meyakinkan bahwa ia tak bersalah, mengisyaratkan bahwa semuanya akan baik-baik saja) Kita nggak akan sampai sejauh ini tanpa Em! Kamu lupa, Rei? Kepekaan Em menangkap petunjuk-petunjuk tersiratlah yang membantu kita mampu memecahkan misteri-misteri yang bahkan kita nggak tahu sebelumnya.
(Menghela napas panjang, memelankan suaranya) Kamu bisa nggak sih, nggak emosi, Rei?

Cyn: (Mendekati Rei, bergumam lirih) Rei, please ... (Matanya menatap Rei penuh harap, seolah meminta Rei agar tidak terus-terusan menyalahkan Em)

Rei: (Hampir luruh oleh isyarat mata Cyn, namun kemudian membuang muka) Aaaah, terserah kalian mau gimana! Persetan dengan semua permainan ini! (Berpaling, kemudian beranjak pergi)

SFX. Tiit ... Tiit ...
Alarm GPS berbunyi. Menunjukkan waktu yang mereka punya tinggal 15 menit lagi, sebelum tabung selanjutnya meledak

Cyn, Em, Joe: (Terkejut, saling pandang) Reeeiiiiii!!!!!


Bersambung ...

___
Episode selanjutnya, akan disambung oleh Mas Hafidh ...
Stay tune yak! ^^   

Sabtu, 09 April 2016

Ketika Inspirasi Belum Juga Muncul


Bertemu teman seperjuangan yang sama-sama suka nulis itu, merupakan suatu kebahagiaan tersendiri. Seperti menjadi suntikan semangat untuk tetap menulis. Layaknya battre bertemu dengan chargernya. Ada sengatan semangat yang luar biasa ketika satu sama lain bisa saling sharing, diskusi, bahkan curhat seputar dunia kepenulisan. Semacam ada letupan-letupan kecil yang mengetuk hati untuk segera menulis lagi, lagi, dan lagi.

Namun, apa yang harus ditulis?

"Aku kalau lagi dalam keadaan santai dan free gini, malah nggak tau mau nulis apa, Zah ... Kayak nggak ada inspirasi yang dateng gitu, buat nulis. Justru kalau misalnya aku lagi banyak pikiran, lagi penat, atau banyak tekanan yang bikin aku stress, malah banyak hal bermunculan di kepalaku. Seperti banyak hal yang harus dikeluarkan dari pikiran. Kemudian dituangkan dalam tulisan." curhat salah seorang sahabat kepenulisan ketika kemarin kami bertemu.

Nah, memang benar sebenarnya ...
Galau itu bahan bakar terbesar seorang penulis. Kalau penulis sudah mulai stress, galau, banyak pikiran, di sanalah akan bermunculan bermacam inspirasi. Karena banyak hal yang berkumpul dalam otak, dan menuntut untuk dituangkan segera.

Meskipun biasanya, tulisan yang dihasilkan masih tak beraturan karena pikiran yang tak karuan tadi, tak apa. Jadikan tulisan itu sebagai draft dulu. Diamkan dulu. Nanti, jika pikiran sudah stabil, baru kamu buka lagi draft tulisan itu. Diedit, perbaiki sana-sini. Jadi deh tulisan yang bagus.

Eitss ...,
Tapi, apa harus nunggu galau dan banyak pikiran dulu, baru kemudian nulis?
Apa harus nunggu inspirasi datang dulu, baru kemudian nulis?

Jangan sampai seperti itu!
Inspirasi itu, tidak melulu muncul tiba-tiba. Inspirasi itu hadir, karena kita berusaha memunculkannya. Jadi, gimana caranya?

Mulailah menulis. Tulislah apa adanya. Apapun itu. Dari hal sederhana sekalipun. Bahkan kegalauanmu yang nggak tahu mau nulis apa, itu pun, bisa juga dijadikan bahan tulisan. Kalau kamu sudah mulai menggerakkan tanganmu untuk nulis, kamu akan rasakan beriiiiibu inspirasi yang muncul dengan sendirinya, seiring dengan mengalirnya tulisan yang berawal dari 'asal nulis' dan 'apa adanya' tadi. Menjadi sebuah tulisan panjang, yang bahkan tanpa kamu rencanakan.

Nggak percaya?
Prove it!

Selamat mencoba, dan ...
Selamat berkarya!
__

*Sekedar pembuktian, tulisan ini dibuat tanpa perencanaan sama sekali. Karna memang saya sendiri pun, lagi nggak ada inspirasi buat nulis. Hanya nekat buka laptop, dan mulai nulis. Hehe ...
Yuk, nekat juga kayak saya! Hihi ^^ 

~@zahida_

Minggu, 03 April 2016

Mencintaimu Dalam Diam


Aku ingin menyayangimu
seperti kabut
yang raib di cahaya matahari*

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana;
dengan kata yang tak sempat diucapkan
kayu kepada api yang menjadikannya abu

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana;
dengan isyarat yang tak sempat disampaikan
awan kepada hujan yang menjadikannya tiada*

Aku ingin mencintaimu dalam diam
Tanpa mengumbar
pun saling menyatakan

Aku ingin mencintaimu dalam diam
Menjaganya dalam-dalam
Kemudian mengudarakannya dalam sujud malam

Betapa indah,
cinta dalam diam
Merasai senyap yang syahdu
Dan hening pun menyesap qalbu

__
Karna cinta itu;
suci
Maka janganlah kau nodai

Karna cinta itu menjaga
Ia dicipta, bukan untuk saling meniadai

Biarkan ia berpilin
Mengalir sesuai fithrahnya
Hingga saatnya nanti
Ketika penghalang telah menjadi jalan
Dan satir telah dibuka
Cinta itu akan berbunga
Dan penjagaanmu,
pun akan menuai hasilnya

Jangan khawatir,
ia tak akan kemana,
pun tertukar dengan lainnya.
Apa yang tertakdir untukmu, akan tetap menjadi milikmu; selamanya .... :)

__
*Sapardi Djoko Damono

@zahidaannayra~

Senin, 28 Maret 2016

Sandiwara



"Senyumlah sedikit, Ra ..." katamu waktu itu.
"setidaknya kau mampu menyembunyikan sedihmu itu. Sedikit bersandiwara, mungkin membuatmu lebih baik ..." ujarmu sembari menarik kedua sisi bibir kecilku.

"Kenapa aku harus berpura-pura bahagia, sedang di dalam sana hatiku merana?" protesku.

"Jika itu membuatmu terlihat lebih baik, kenapa tidak?" jawabmu singkat.

"Tidak semua hal yang sedang kita rasakan, harus ditunjukkan, bukan? Jika bisa membuat oranglain bahagia melihat senyummu, mengapa harus kesedihan yang kau tampakkan?" lanjutmu ketika aku tak lagi membantah.

Ah, kau selalu berhasil membuatku terbungkam. Meng-iya-kan setiap argumenmu. Dan kemudian diam-diam, aku mengamalkan ajaranmu.

Karena sandiwaramu lah, kau menjadi pribadi yang sulit ditebak. Nyatamu, tak selalunya sama dengan apa yang ada dalam hatimu. Aku sering salah mengartikan bahagiamu, tawamu, bahkan 'baik-baik saja' mu. Dan kini aku paham: bahwa selama ini, aku salah beranggapan tentangmu; yang (terlihat) selalu bahagia. Seperti tak ada kesedihan yang bertandang dalam hari-harimu.

Aku semakin mengerti; sejatinya, kau tidaklah setegar dzohirmu. Hatimu, tak sebahagia wajahmu. Dan 'baik-baik saja' mu, tak sekuat pertahanan batinmu.

Aku tahu, karna aku mulai terbiasa dengan sandiwara yang selama ini kau ada-adakan. Aku menjadi bisa membaca ekspresi wajahmu. Aku mampu melihat gurat kesedihan diantara bahagia yang kau paksakan. Aku menjadi tahu, kapan saat kau benar-benar bahagia, atau hanya berpura-pura. Aku tahu, kapan kau baik-baik saja, atau kau hanya bersandiwara. Aku menjadi paham, dan bisa membedakan.

Karna apa?
Karna aku telah mempraktekkan apa yang kau ajarkan. Dan aku mampu merasakan bedanya. Antara tulus, atau sandiwara.

Namun, tak dapat ku pungkiri, bahwa titahmu, ada benarnya.

 'Jika kita bisa membuat oranglain bahagia dengan senyum, mengapa harus nampak murung?'

Karna terkadang, berpura-pura bahagia pun, bisa mendatangkan bahagia yang sesungguhnya. Yang perlu aku lakukan sekarang, hanya tersenyum, bukan? Menganggap semuanya baik-baik saja. Bersikap seolah tak ada apa-apa. Dan (berpura-pura) bahagia, seolah tak ada kesedihan di dalamnya.

Terimakasih untuk mengajariku hal itu.
Semoga kau menemukan bahagiamu yang sebenarnya. Hingga tak perlu lagi bersandiwara. Untuk sekarang, dan seterusnya .... :)


~@zahidaannayra_
__
#Morning ... :)

Rabu, 23 Maret 2016

Bicara Tentang M.A.N.T.A.N

sumber gambar; https://www.google.co.id/search?

Bicara tentang cinta, memang tak akan ada habisnya. Selalu menjadi suatu hal yang menarik untuk diperbincangkan. Dari dulu, hingga sekarang. Meskipun sering dan selalu diulang-ulang. Tak ada bosannya.

Bicara tentang cita-cita, nyambungnya ke cinta. Bicara tentang keadaan masyarakat, nyambungnya ke cinta. Bahkan ngomongin politik pun, bisa nyambungnya sampai ke cinta.

Cinta ... oh cinta ...
kau selalu ada di mana-mana ...
menghantui manusia
Ada Apa Dengan Cinta?
Ia galau ditinggal Rangga; merana 
#Lah!

(Oke, abaikan! :v)

Balik lagi soal cinta, bagi masyarakat kebanyakan, apalagi anak muda jaman sekarang, cinta selalu identik dengan pacar, dan: M.A.N.T.A.N. (sengaja gue capslok :v)

Gue mau cerita tentang temen-temen yang akhir-akhir ini semangat banget cerita tentang mantan mereka. Jadi ceritanya, mereka itu seperti perkumpulan orang-orang senasib yang pernah disakitin oleh mantan pacarnya. :v

Kata 'Mantan' bagi mereka, adalah sebuah momok yang sukses membuat emosi mereka naik seketika. Seperti sesuatu yang ingin mereka telan mentah-mentah untuk dilenyapkan. Dan seperti biasa, gue sebagai pendengar setia, tak pernah berhasil menahan tawa melihat mereka berapi-api ketika bercerita perihal sang mantan.

Ada saja hal-hal konyol yang diperbuat untuk mengekspresikan kejengkelan atas perlakuan mantan pacar mereka. Menghentak-hentakkan kaki, tangan mengepal,  mata melotot, bahkan memukul sesuatu, menjadi hal yang biasa mereka lakukan ketika bercerita.

Tapi sebenarnya, dalam pikiran; gue menarik satu kesimpulan bahwa: mereka melakukan semua itu, bukan karena sifat buruk, atau kelakuan mantan pacar mereka yang menjengkelkan. Namun sejatinya, mereka hanya kesal dan tidak terima atas putusnya hubungan mereka.

Kenapa gue bisa beranggapan seperti itu? Coba deh, kalian pikirkan.
Orang-orang yang sedang berpacaran dan saling jatuh cinta, apapun kejelekan yang ada pada pasangan mereka, akan terlihat baik. Meskipun tidak, mereka akan memaklumi dan memaafkan kesalahan yang diperbuat. Mereka bisa dengan mudahnya menghadirkan berbagai spekulasi yang membuat kesalahan itu tidak besar. Hanya sebuah kekhilafan dan alpha yang lumrah dilakukan oleh manusia.

Ini yang terjadi pada orang yang sedang saling jatuh cinta. Dia mencintai pasangannya, dan pacarnya pun, mencintai dia.

Namun, bedakan dengan mereka yang ditinggalkan. Pacarnya berpaling; berpindah ke lain hati (jreng .. jreng ...). Sedang dia masih mencintai pacarnya. Masih mengharapkan dia.

Bagaimanah hasilnyah pemirsah? :v

Habislah ia. (Mantan) pacarnya kini layaknya pendosa yang penuh dengan keburukan. Bahkan tak ada kebaikan sedikitpun dalam dirinya. Tak lagi ada pemakluman atas kesalahan. Hal buruk yang hanya secuil, menjadi seperti dosa besar di matanya. Ia menjadi orang yang tak pantas ada. Dan hanya pantas untuk dilenyapkan.

Walhasil, jadilah mereka yang ditinggalkan ini seperti orang yang tiba-tiba naik darah secara drastis, ketika nama mantan disebut. Dengan gaya khas mereka masing-masing; berapi-api seperti ingin membunuh orang (ini lebay tapi nyata :v ), atau berlagak seperti orang yang kalah perang; pasrah dan melas -orang kayak gini biasanya sukses kena bully ;v-

Dan cerita tentang mantan, adalah hal yang tak bisa mereka tahan untuk diceritakan, apalagi ketika mereka bertemu teman senasib --sama-sama ditinggalkan--.  :v

Nah, orang-orang seperti inilah yang sejatinya belum bisa move on dari yang namanya MANTAN.

Meskipun mereka sudah punya pacar baru, namun masih semangat menceritakan tentang keburukan mantan dengan berapi-api dan penuh dendam, pada dasarnya, mereka belum bisa ikhlas atas berpalingnya (mantan) pacar mereka, dan atas berakhirnya hubungan mereka.

Hayooo ..., kalian yang ditinggalkan, masih adakah harapan yang tertinggal dari lubuk hati yang paling dalam? o_0

:v

__
#YukMoveOn!
#BuanglahMantanPadaTempatnya :v






Sabtu, 19 Maret 2016

Di Waktu Pagi, Hatiku Tertawan

 Image result for gambar sepeda dan pagi

Sepagi ini, aku sudah tersenyum.

Mungkin jika ada orang lain yang melihat, mereka akan mengira bahwa aku masih terbawa oleh mimpi indah semalam. Hingga ketika membuka mata, aku refleks mengulas senyum.

Bukan. Bukan itu.
Bahkan aku tidur sangat nyenyak semalam. Tak bermimpi apapun.

Lalu apa? Mungkin kau bertanya-tanya tentang itu.

Karna pagi.
Karna pagi datang. Dan aku telah jatuh cinta pada waktu ini.
 
Menunggu saat-saat aku berangkat. Kemudian bergegas. Sepagi ini.
Mengayuh sepeda yang lambat. Lebih tepatnya, aku yang membuatnya lambat. Pura-pura menikmati pemandangan di kanan-kiri. Padahal semua orang tahu; tak ada yang bisa dinikmati dari pemandangan disini. Hanya perumahan padat penduduk yang semakin kumuh.

Namun bagiku, mengayuh sepeda perlahan di antara deretan rumah ini, telah menjadi salah satu rutinitas yang kutunggu. Sejak beberapa hari yang lalu tepatnya.

Karna memang, ada hal lain yang kutunggu.
Hal yang membuatku tersenyum sepanjang jalan. Sesuatu yang membuatku tak sabar menanti waktu pagi. Merasakan Senin yang bagi kebanyakan orang adalah Blue Monday, menjadi Sweet Monday bagiku.

Kau tahu? Tak pernah ada penantian semenyenangkan ini. Melewati hari-hari panas yang membuat penat, menjadi layaknya hari penuh bunga dan keteduhan di dalamnya.

Ada sensasi beda disana.

Ketika jantung berdetak lebih kencang, dan nafasku tertahan. Aku terpana. Pada penciptaan makhluk-Nya yang luar biasa sempurna. Dan aku jatuh cinta. Pada detakan pertama. Dan pandanganku tertahan padanya.

Kau tersenyum. Tepat saat pandanganku tertuju padamu. Membuatku salah tingkah. Ingin rasanya membalas senyummu. Namun sepertinya, pesonamu mampu menyihirku. Membuat urat wajahku kaku. Dan aku hanya mampu tertunduk. Berpura-pura tidak tahu, sok sibuk berkonsentrasi pada laju sepeda. Ingin rasanya memacu lebih kencang, menyembunyikan wajahku yang panas; memerah malu atas tatapmu.

Namun sepertinya, waktu ingin mengulurnya lebih lama. Bersekongkol dengan alam yang tiba-tiba menjadi hening; tanpa suara.

Dan sekuat aku melarikan diri, saat itulah aku menyadari; hatiku telah tertawan disana.

__
~zhed'z