Jumat, 24 Maret 2017

Akhir Dari Segalanya



Kita memperbaiki diri, dengan cara mencintai yang pernah patah.
Dan kita pernah patah, ketika tengah serius mencoba untuk memperbaiki dengan sepenuh hati.

-BK


Jika memang keadaan mengharuskan semuanya berubah menjadi seperti ini, baiklah..
aku akan mencoba untuk beradaptasi dengannya..
Namun, satu yang aku pinta; bolehkah aku tetap merindu, seperti sebelumnya?

Bolehkan, aku tetap mendoamu seperti sebelumnya? Aku mungkin tak lagi berharap apapun dari kamu. Namun, sampai kapanpun, aku akan tetap menggantungkan harap itu padaNya. Sang penguasa setiap hati yang mendetak, mengiring hembusan nafas hamba-hamba-Nya.

“..aku bukannya tak peduli, namun keadaan yang menuntutku untuk bersikap seperti itu..”

Setelah sekian lama rindu itu tak jua menemu jawabnya, pada akhirnya kalimat itulah yang keluar dari hatimu. Meski tak kau lisan secara langsung, semuanya telah kau ungkapkan dalam tulisan yang tersurat untukku.

Berbilang waktu aku menunggu, pada akhirnya, aku memutuskan untuk mundur, dan berhenti. Aku tak lagi berharap menjadi orang yang istimewa buatmu.

Pada akhirnya, kau lebih memilih keegoisan itu tetap ada. Pada akhirnya, kegengsian itulah yang kau pilih untuk kau pertahankan diatas segalanya. Kau lebih memilih keduanya untuk tetap bertahta dalam hatimu.

Aku bisa apa? Selain menerima keputusan yang telah kau buat, meski secara tersirat, bukan?

Semenjak itu, aku sebenar sadar; bahwa sejatinya, aku bukanlah siapa-siapa di matamu. Tak ada gunanya memaksakan kehendak, bukan? Pun tak ada gunanya menyesali semua yang telah terlewat dan terjadi. Ada waktu yang harus kita patuhi ketentuannya. Ada garis yang harus kita tau batasnya.

Mungkin inilah saatnya. Jika kau memintaku untuk pergi, aku akan pergi. Jika kau memintaku untuk berhenti, aku akan berhenti. Aku tak ingin mengganggu lebih jauh kehidupan barumu. Sekali lagi, mungkin kau benar; dunia kita berbeda. Dan rupanya, aku yang harus sering-sering beradaptasi dengannya. Membiasakan hidup dengan keadaan seperti ini.

__

Jangan pernah mencintai orang terlalu dalam. Jangan pernah berharap lebih pada siapapun selain-Nya. Atau kau akan kecewa. Bahkan membenci apa-apa yang kau cinta.

Jangan pula terlalu berlebihan dalam membenci sesuatu. Karena bagaimanapun, segala sesuatu yang berlebihan akan berujung pada suatu hal yang berkebalikan. Percaya atau tidak percaya. Setidaknya, itu pelajaran yang bisa aku simpulkan dari segala hal yang telah terjadi selama ini.

Terimakasih untuk semuanya, dari awal, hingga kini_

Meski pada awalnya, satu, yang paling aku takutkan dari perjumpaan antara kita adalah; kau lupa; pernah sebahagia apakah kita.

__

Well..Baiklah, aku akan belajar untuk bahagia. Dan semoga kau pun juga_ 


#latepost

Jangan Lupa Bahagia


Hasil gambar untuk gambar pelangi

Jangan mengeluh,
kondisimu sekarang, belum ada apa-apanya
dibanding mereka di luar sana_

-zhda

"Prof, setelah semua alasan-alasan yang bahkan kau hadirkan untuk membuatku bertahan, mengapa kesedihan itu tak kunjung pergi jua? Seperti mendung pekat yang enggan pergi. Membawa ribuan ton air yang siap tertumpah kapan saja..." aku menghela nafas panjang.

"Prof, aku lelah ..
lelah menghadirkan berbagai macam alibi yang selalu kau sarankan untuk meniadakakan semua sedihku. Untuk apalagi ini, Prof?"

Sudut mataku meliriknya yang hanya tersenyum tenang. Tanpa sedikitpun terusik denganku yang bahkan hampir berkaca.

"Ra, kamu tahu kan, kalau Allah tidak pernah menyalahi janji-Nya?"

"Hm?"

"Inget kata Allah dalam firman-Nya; Sesungguhnya, bersama kesulitan itu ada kemudahan.
Begitupun dengan segala kesedihan yang kau rasa." katanya singkat.

"Maksudnya?"

"Ya Allah, gini deh, orang yang lagi terpuruk. Nggak bisa mikir jernih. Bahkan pada hal-hal yang jelas sekalipun." ujarnya sembari memutar duduk menghadapku.

"Ra, seperti adanya malam dan siang, pun kemudahan setelah adanya kesulitan, sejatinya, Allah sedang menyiapkan bahagia dibalik sedih yang sedang kau rasa.

Kau hanya perlu menyibukkan diri untuk melupakan segala penatmu. Segala sedih dan keluh kesah yang tiap hari kau ucapkan. Apa kamu nggak capek, setiap hari harus menggerutu, merutuki keadaan yang ada?" tanyanya ringan namun menohok kesadaranku.

Aku terdiam. Menyadari kenyataan bahwa aku terlampau banyak mengeluh daripada mensyukuri.Terlalu banyak terpuruk daripada mencoba untuk menerima keadaan, dan beradaptasi dengan kondisi yang ada.

"Prof, apa kau yakin, bahagia itu akan ada?" tanyaku mencari keyakinan dari bening matanya.

Ia  mengangguk mantap.Tersenyum meyakinkan.

"Yakinlah, bahagia itu akan hadir, berjalan beriringan dengan sedihmu. Yakinlah, tapi jangan kau tunggu bahagia itu. Sejatinya, kau sendiri yang akan ciptakan bahagia untuk dirimu sendiri. Maka, ciptakanlah!

Bukan pada kondisi dan situasi yang membuatmu bahagia atau sedih. Namun lebih kepada bagaimana kau menyikapinya. Kaulah yang membuat keadaan hatimu bahagia atau sedih. Sebenarnya, semua itu tergantung pada dirimu sendiri, Ra ..."

Aku terdiam. Mencerna baik-baik setiap kata yang keluar dari lisannya. Merenungi segalanya.

Memang benar, bahagia itu akan ada, jika kau ingin. Begitupun, dia akan pergi jika kau tak lagi membutuhkannya. Setidaknya, itu satu kesimpulan yang bisa aku ambil dari tuturnya.

__

Kamu, jangan lupa bahagia, ya.. :)

Jumat, 20 Januari 2017

Serigala Berbulu Hoax




KIBLAT.NET – Hoax (dibaca howks, bukan hoaks). Menjadi kata yang sering muncul belakangan ini. Apalagi, pemerintah kemudian menggalang masyarakat gelar deklarasi anti hoax di acara Car Free Day tiap akhir pekan.

Kalau tak jeli, isu anti hoax ini terlihat aksi spontanitas masyarakat biasa. Namun jika dirunut secara cermat mengikuti kronologisnya, pelan-pelan kita bisa membaca apa agenda sesungguhnya di balik masifnya gerakan anti hoax.

Seiring dengan geliat aksi 411 dan 212, aparat pemerintah menangkap sejumlah orang terkait aktivitas di sosial media. Seorang guru yang mem-posting status ajakan Rush Money ditangkap. Kapolri pun menebar ancaman. Menurutnya, media sosial berpotensi mengganggu kebhinekaan.

Tak lama, seorang jurnalis Muslim di Solo ditangkap dengan tuduhan pembuat propaganda. Menyusul kemudian, pemblokiran situs-situs Islam. Bersamaan dengan pemblokiran itu, muncul pemberitaan bahwa situs-situs yang diblokir menyebarkan hoax. ‘Umpan lambung’ ini kemudian dikonversi menjadi gol dengan lahirnya gerakan anti hoax.

Motor gerakan anti hoax ini muncul dari social media juga. Ada fanspage Forum Anti Fitnah, Hasut dan Hoax, ada juga fanspage Indonesian Hoaxes dan Masyarakat Anti Fitnah Indonesia (Mafindo). Kemudian muncul situs Turnbackhoax yang turut dipopulerkan media mainstream. Karena sesuatu yang berasal dari sosial media sangatlah terbuka, maka anatomi inisiator gerakan ini juga dengan mudah diungkap.

Gerakan ini cukup sistematis dan terorganisir untuk memonopoli klaim kebenaran di tangan mereka. Secara massif, mereka memonopoli klaim kebenaran dengan kampanye anti hoax dan Tolak Berita Bohong. Apa yang mereka sebarkan diklaim sebagai kebenaran sekalipun mereka juga pernah terjerembab dalam jurang fitnah dan hoax.

Kantor berita Antara, beberapa waktu lalu, sempat tersandung kasus berita hoax. Antara menulis berita dengan judul berita besar-besar: Jokowi Pemimpin Terbaik Asia Australia versi Bloomberg. Setelah dicek dari sumbernya, rupanya tulisan aslinya berjudul” Siapakah yang Mengalami Tahun Terburuk, Dan Bagaimana Mereka Menjalaninya di 2016?

Dari sini terlihat jelas, masifnya upaya gerakan anti hoax ternyata digerakkan oleh pihak tertentu dengan tujuan tertentu. Cara menilainya cukup mudah; Siapa yang paling sering mereka serang dengan tuduhan hoax?

Upaya gerakan anti hoax, jika memang jujur, sejatinya merupakan gerakan moral yang baik. Ajaran Islam punya segudang narasi yang mendukung gerakan anti hoax. 1400 tahun lalu kitab suci umat Islam sudah mengajarkan adab dan tatacara menerima dan menyebarkan berita. Di sisi lain, kita juga turut prihatin dengan marak beredarnya berita-berita menyesatkan di pekarangan sosial media kita. Tentu ini harus dihentikan, tapi harus dengan cara yang tulus dan fair.

Jangan sampai gerakan ini punya niat buruk terselubung bagaikan serigala berbulu domba. Menampilkan kesan mulia dengan mengusung gerakan anti hoax tapi sejatinya menyasar umat Islam. Parahnya lagi, menuding orang dengan sebutan hoax tapi tak berkaca kalau dirinya kerap menebar fitnah.

Kita, Rindu, dan Takdir Yang Baru




Ada getir yang menggores dinding hati. Seperti setetes keruh yang tiba-tiba bercampur dalam bening.

Aku kini sebenar sadar. Tak ada gunanya aku membicarakan semuanya di depanmu. Berkisah tentang luka, bertutur perihal rasa. Kau bukan lagi layaknya dinding yang nyaman untuk bersandar. Meski hanya untuk melepas lelah sejenak. Bertutur perjalanan panjang penuh aral yang melintang.

Kau, bukan lagi tempat nyaman untuk melepas penat, mencurahkan segala yang terjadi dalam hari-hari. Mungkin aku terlambat menyadari. Dan kudapati dinding itu telah penuh dengan goresan yang memerih.

Aku sebenar sadar, energi positif itu tak lagi tersisa untukku. Bahkan sedikit saja. Tak ada guna untuk bercerita. Karna apapun yang tercurahkan, hanya negatif yang ada dalam pandangmu.

---
Mengapa susah sekali merelakan semua yang terjadi? Menyadari kenyataan bahwa tak akan ada lagi yang sama seperti adanya. Aku tak ingin membenci, namun kau membuatku melakukannya. Aku tak ingin mendesis kecewa, namun kau menyulut semua kekesalan yang ada.

Pertahananku mungkin bisa dibilang hampir mencapai puncaknya. Aku terlambat menyadari bahwa dunia kita sekarang berbeda. Tidak lagi sama seperti apa yang pernah kita jejaki bersama. Dan itu tak bisa dipungkiri. Bagaimanapun kita bersikeras untuk menghadirkan berbagai alasan untuk menyangkalnya.

Kau ada pada duniamu. Kehidupan barumu. Beserta orang-orang baru yang hadir dalam episode baru kehidupanmu. Aku pun mungkin juga begitu. Sekeras apapun kita berusaha untuk kembali, mungkin waktu itu akan habis, hanya untuk sebuah kesia-siaan yang tak berarti apa-apa.

Takdir itu telah menjelma niscaya. Dan kehidupan akan terus berlanjut. Tak akan berhenti barang sedetikpun, meski kau (atau mungkin aku) tak menghendaki alurnya.

Tiba-tiba, aku merasa dilema. Jika Tuhan memberiku kesempatan untuk memulai semuanya dari awal, aku ragu: akankah aku senang, atau bahkan memilih untuk tak mengenalmu, sama sekali?


__

Jumat, 06 Januari 2017

Berdamai Dengan Takdir



Hasil gambar untuk gambar jalan

Diam, atau berbalik.
Dua pilihan yang ada di tanganmu.
Hadapi, atau hindari.
Pastikan kau tak akan menyesal di akhirnya!

@zahidaannayra_

Kawan, hidup ini tidak selalunya berpihak pada kita. Kadang kita perlu mengalah akan setiap realita yang terjadi. Membiarkannya mengalir sesuai taqdirnya. Kita hanya perlu mengikuti alurnya. Melihatnya dengan seksama. Kemudian menikmati setiap episodnya.

Kau pernah, berada dalam situasi yang sama sekali tidak kalian harapkan? Berada di tempat yang tidak tepat, dalam kondisi yang tidak pas, bersama orang-orang yang sama sekali tidak tepat untuk kita temui pada saat itu; menurut kita.

Orang-orang yang hadir di sekeliling kita pun, tidak selalunya mereka yang kita harapkan. Seringkali Allah sengaja menghadirkan orang-orang tak terduga di setiap kesempatannya. Kita tak pernah tahu apa maksudnya. Bahkan ketika kita sama sekali tak ingin bertemu dengan mereka. Mereka ada, hadir, dan bersinggungan dalam hari-hari.

Kesal, itu pasti. Perasaan yang wajar adanya. Kita tak ingin, namun Ia ingin. Kita tak senang, namun ini kehendak-Nya. Serasa ingin menghindar, namun tak kuasa. Pernah?

Itulah jalan yang harus kita lewati. Kita tidak akan mampu mengatur siapa orang-orang yang ingin kita temui, atau siapa yang tidak ingin kita jumpai  dalam sebuah jalan umum, bukan? Apalagi melarang sang pemilik jalan untuk membatasi sesiapa yang boleh lewat di jalan itu. Siapa kita?

Pasti ada manusia-manusia baru yang akan kita temui dalam perjalanan. Atau bahkan, kita akan menjumpai mereka yang pernah ada? Meski jalan yang kita lalui bukan jalan yang sama, bukan sebuah kemustahilan kita akan bertemu dengan mereka yang dulunya pernah hadir, kan?

Bahagia? Mungkin iya. Karena kita merasa memiliki teman di ranah yang baru. Di jalan yang mungkin masih terasa asing. Namun, apakah dari semua yang dipertemukan kembali merasakan kebahagiaan yang sama?
Tidak juga.

Sekali lagi, mereka tak ingin. Namun Allah ingin. Mungkin hati mereka tak berhenti bertanya; mengapa harus dia? Haruskah aku menjalani takdir yang sama; mengulang cerita yang pernah ada? Sejatinya, itu semua tergantung pada diri kita sendiri. Akan bagaimana kau menyikapi realita yang ada? Bagaimana kau akan menghadapi takdir yang sudah mulai diputar dalam episode kali ini. Bersama orang sama, dalam waktu dan tempat yang berbeda. Tinggal bagaimana kita akan mengambil peran di dalamnya. Sekali lagi, itu semua tergantung kita. Dan tentu saja takdir tetap akan berjalan di atasnya.

Kisahmu mungkin belum selesai di masa lampau. Dan Allah ingin kau menyelesaikannya di sini. Di persimpangan jalan yang baru. Menuntaskan apa yang telah kau mulai, namun belum juga selesai. Kisahmu mungkin masih menggantung. Dan bukankah ini waktu terbaik untuk menyelesaikan semuanya? Tunggu apalagi? Selagi kalian masih berada di jalan yang sama.


Kenapa? Bahkan kau tak ingin menyelesaikannya? Membiarkan semuanya menggantung tanpa ending yang jelas?

Jangan jadi pengecut! Karena berbagai alibi yang kau pertahankan, hanya akan membuktikan bahwa kau melarikan diri dari masalah yang sejatinya kau buat sendiri.

Face it!

Don’t Escape!

Percayalah, ceritamu akan menjadi lebih indah jika kau mampu menyelesaikannya. Allah selalu punya alasan mengapa Ia menuntunmu pada jalan ini. 
Kau penasaran? Jalani saja. J

Selasa, 13 Desember 2016

Tak Seperti Kelihatannya





Bukan memendam, namun belum ada tempat  untuk mencurahkan..
Bukannya tak ingin cerita, hanya saja aku masih belum bisa untuk percaya

Memang, sedikit tersiksa dengan beban yang ada
Namun, akan lebih menyiksa, jika tempat mencurahkan tak seutuhnya bisa di pegang kata-katanya

Please, don't ever judge me
You never know who am I
You haven't know how I am

It's the reason that I worried  from the first time
I dislike the way you do to me
I hate for the real
Even you say with a weak way
That's a bad way for me

I hate, for the fact!
I hate, for the real!


Jangan pernah merasa telah mampu memahami oranglain seutuhnya. Bisa jadi, kita malah belum mengenalnya sama sekali_


@Ra~

Senin, 12 Desember 2016

Karna Peduli, Bukan Soal Basa-Basi


Dua tipe manusia yang tak akan terlupa sepanjang masa;
Orang yang menolong kita di saat susah
dan
Orang yang meninggalkan kita di saat kita sedang jatuh-jatuhnya
...



Life, is all about exam and sacrifice..

Kawan, setiap dari kita pasti pernah menemui sebuah ujian. Tak hanya sekali-dua kali. Namun, seperti telah menjadi sebuah keniscayaan, ujian akan selalu hadir membersamai hari-hari manusia. Cause this world is the place to fight, right?

Hidup ini adalah ranah ujian yang Allah sediakan untuk kita. Tempat di mana pertarungan akan selalu ada. Sebuah sunnatullah yang tak mampu kita hindari.

Kau tahu?
Ujian tidak hanya mengajarkan ketahanan kepada kita. Namun ia mengajarkan tentang sebuah pengorbanan dan empati yang terbentuk antara satu dengan yang lainnya. Akan terlihat; mereka yang benar-benar ada di saat kita sedang jatuh-jatuhnya. Akan nampak ketulusan dan pengorbanan mereka di saat kita sedang terpuruk-terpuruknya. Akan tersisa dari sekian banyak manusia yang akan tetap ada ketika kita sedang sakit-sakitnya. Akan nampak, siapa sebenarnya yang benar-benar peduli, atau hanya ada di saat bahagia.

Mereka yang tulus, mereka yang tanpa pamrih, mereka yang peduli, dan mereka yang hanya ada sebagai formalitas belaka.

Kau akan mampu melihat mana yang sejatinya benar-benar menjadi 'teman' bagimu, adalah saat dimana kau sedang berada di titik terendah kehidupanmu. Akan ada yang dulunya begitu ramai, menyertai dalam tawa, hadir dalam suka, pun membersamai dalam bahagia, melipir satu-satu. Tak kau temui wujud pun bayang mereka di sekitarmu, bahkan di saat kau benar-benar butuh akan mereka, melebihi saat dimana kau bahagia.

N.I.H.I.L. 

Mereka seolah lenyap begitu saja. Tak ada wujud pun rupa. Seperti tak pernah ada sejarah pertemuan kalian sebelumya. Bahkan ia yang sepertinya menjadi karib dalam bahagia, seperti asing dalam duka. Kedekatan yang seperti tak tampak adanya.

Namun. adapula beberapa dari mereka yang berbasa-basi; bertanya perihal keaadaanmu, hanya sebagai syarat penggugur. Absen, bahwa setidaknya mereka masih mengenalmu. Setidaknya mereka masih menganggapmu ada. Bukan berprasangka buruk, namun hati akan mampu membedakan keduanya. Tak akan dapat kalian pungkiri, bahwa sejatinya kedua hal itu benar-benar berbeda. Antara ketulusan, dan sebuah penggugur kewajiban belaka.

Di sisi lain, akan kau dapati mereka yang rela mengorbankan waktunya hanya untuk tetap ada di sisimu. Mereka yang mengedepankan kepentinganmu di atas kepetingan-kepentingan pribadinya. Meski tak sempurna, ia mengusahakan semaksimal mungkin kemampuan yang ada. Tulus, tanpa pamrih, pun tanpa ada keluh kesah.



Uluran tangannya terjulur, siap menarik kita dari keterjatuhan yang dalam. Ia terbuka lebar, siap menampung kemungkinan tangis yang luruh atas keterpurukan yang menimpa. Jari-jarinya siaga, menghapus bulir yang menderas dari kelopak mata.

Karena peduli, bukan soal basa-basi. Ia terlahir alami. Dan mampu dirasa oleh nurani. Bukan keterpaksaan, ataupun sebuah kewajiban yang mendorong mereka untuk bergerak. Namun ketulusan serta bersihnya hati yang akan menggerakkan jasmani.

Karena peduli, bukan soal basa-basi. Ia lekat dengan nurani, dan terpatri dalam sanubari ...


__
#satu pelajaran dari sebuah keterjatuhan_

Jumat, 09 Desember 2016

Menulislah, dan Jadilah Produktif




Tak mudah menjadi produktif dalam menulis. Seperti tekad seorang Tere Liye sebelum karirnya melambung tinggi. Meski sejatinya ide bertebaran di mana-mana, namun jika kita tidak mengetahui bagaimana menangkapnya, mereka akan lepas. Terbang begitu saja.  Apalagi setelah sekian lama kita sombong dengan ide-de itu sendiri. Membiarkannya lepas dan lewat begitu saja.

Bagaimana bisa menjadi penulis yang produktif, jika hal-hal kecil selalu kita anggap remeh, tanpa ada keinginan menuliskannya? Kau tahu? Banyak hal-hal besar yang lahir dari remah-remah yang selalu kita anggap remeh.

Hm, tekad yang rapuh mungkin..

Kurangnya azzam kita untuk untuk menjadi produktif itu sendiri. Hanya sebatas angan-angan tanpa realita. Seharusnya, sesulit apapun itu, tuangkan saja apa yang ada. Nggak perlu muluk-muluk, apa adanya saja.

Bedanya kita dengan Tere Liye, beliau komitmen dengan apa yang ditekadkan. Kemudian merealisasikannya terus menerus. Tidak peduli tulisannya seperti apa di awal. Ia percaya, perbaikan itu akan selalu ada di setiap prosesnya. Tulisan itu akan halus dengan sendirinya. Tidak peduli separah apa awalnya.

Apapun, segalanya akan terasa berat, pun terjal pada permulaannya. Dan itu tidak akan abadi. Kebaikan akan selalu mengiringi mereka yang bersabar akan setiap proses yang ada. Membenahi, mengevaluasi, dan mengambil pelajaran dari setiap kesalahan yang dibuatnya.

Tidak ada proses yang sia-sia. Segalanya menjadi bagian yang terlibat dalam sebuah kesuksesan yang menanti di depan mata.

Menjadi produktif dengan tulisan yang berkualitas memang tak mudah. Namun, akankah kita hanya diam dan bermimpi? Jangan harap, karena itu hanya akan menjadi angan-angan yang tidak akan pernah tercapai.

Menulislah..
Meski hanya tulisan sederhana

Menulislah..
Meski seakan tak bermakna apa-apa

Mulailah, karena segalanya berproses. Kau akan mendapati perbedaan pada tulisanmu sekarang, dan tulisanmu lima tahun mendatang..

Satu syaratnya, menulislah, dan jadilah produktif!

Salam Literasi! ☺

__
@zahidaannayra
#selftalk_

Selasa, 29 November 2016

Kamu, Apa Kabar?




Hai,,,
Apa kabar,,,
Aku masih peduli, bukan?

Biarpun kau selalu acuh, dan seringkali mengabaikan hadirku. Jangan khawatir, tak apa, aku sudah 
mulai terbiasa kok.. 

Tanpa luput, aku sentiasa mendoa kebaikan atasmu; semoga engkau baik-baik saja ‘di sana’. Ya, di sana. Karena memang aku hanya mampu melihatmu dari sini. Mengintip keseharianmu. Diam-diam 
mendo’a kebahagiaan untukmu.

Tak apa, kan?
Karena hanya dari sini aksesku. Terkesan terkekang ya? Nggak kok, justru malah luas tak berbatas. Aku memilih untuk berhubungan denganmu melalui-Nya. Lewat do’a-do’a yang selalu didengar oleh-Nya. Semoga. 

Bukankah Ia tak pernah abai atas pinta hamba-hamba Nya?
__

Kamu,

Apapun itu, semoga selalu diberikan yang terbaik. Meski tidak setiap yang terbaik itu hadir dengan wujud baik, kan?

Seperti halnya kita. Ihwal kita, mungkin jauh dari kesan baik. Namun, skenario-Nya tak pernah salah, bukan? Selalu ada takdir baik diantara kejadian yang mungkin tidak kita harapkan adanya.

Aku selalu percaya itu. Karenanya, aku tak pernah menyalahkan apapun yang terjadi diantara kita. Semuanya sudah cukup menjadi anugerah yang hadir dalam hidupku. Termasuk kamu.

Semenjak keterpisahan itu, aku memilih untuk menepi. Mengoreksi diri. Bermuhasabah atas segala yang telah terjadi.
Bukankah diam tidak selalunya berarti marah? Jarak yang ada, tidak selalunya mencipta jauh, kan? Mengapa harus khawatir? Bukankah do’a tak berbatas ruang dan waktu?

Percayalah, semuanya masih sama. Hanya sudut pandang kita yang mungkin berbeda. Yakinlah, semuanya akan baik-baik saja. 
Setidaknya, aku menjadi lebih mampu mematut diri. Membenahi kendali. Menata hati. Berharap menjadi sebaik-baik pribadi.

Hingga nantinya, takdir-Nya lah yang akan menentukan akhir dari kisah ini.
Apapun yang terjadi, segalanya adalah yang terbaik. 
Untuk aku, kamu, dan juga mereka.
__
Hei, kamu,,
Jangan sakit,ya..
Allahu yubarik fiik ...  :)

__
drizzle night_,
Ra~

Rabu, 16 November 2016

Rindu yang tertahan itu sakit, bukan?



Apapun yang terlihat, boleh jadi tidak seperti yang kita lihat.
Apapun yang hilang, 
tidak selalunya lenyap seperti yang kita duga.
Ada banyak sekali jawaban dari tempat-tempat yang hilang.
...
_TereLiye_

Ini bukan tentang sebuah kesalahan, Ai ..

Kau tak pernah tau, gimana rasanya kangen sama orang, yang sejatinya raganya dekat dengan kita.
Deket banget malah.
Tapi seakan, dia itu jauuuh banget..

Untuk menggapainya pun kau tak mampu, apalagi menyentuh hatinya, memeluknya mesra, kemudian berbisik tulus kepadanya; bahwa kau mencintainya karna Allah..

Kau nggak pernah tau, Ai
gimana sesaknya ...

__

Ini bukan tentang sebuah kesalahan _,,

Namun hati yang meronta ...
Ia menuntut rindu yang tak mampu terungkap,
rengkuh yang hanya mampu memeluk hampa
bisikan lirih yang kemudian hempas diterbangkan angin..

"Sampai kapan, Ai?"
Hanya itu tanya yang berulang kali menggema dalam nurani
Tanya yang berulang kali tertahan
Dan rindu yang lagi-lagi menjadi korban

Jujur, Ai .., aku rindu ...
Aku rindu,
namun lidahku selalunya tak sampai mengucap kata itu
Bukan ego atau gengsi yang menahannya,
namun airmata selalu lebih dulu mewakili semua kata

Maafkan lisanku yang tak sempat mengucap
Maafkan aku yang tak pandai mengendalikan tangis
Maafkan, jika semuanya terjadi di luar kendali

Semoga ini belum terlambat_

Uhibbukum, fillaah ...


@zahida~
_16.11.16_

Selasa, 15 November 2016

Melepasmu


Hasil gambar untuk gambar bayangan hujan

Kebahagiaan konon bisa lenyap;
oleh pihak ketiga, atau lekang oleh waktu
...


Aku tidak bisa berlama cemburu.

Mendengar rindumu, menerima keyakinanmu padaku yang kubalas dengan keraguanku, melihatmu ingin bersamaku, tapi membiarkan dirimu nyaman dalam cerita-ceritanya. Yang terparah: diammu adalah tanda bahwa kamu meminjamkan hatimu padanya, yang sebenarnya masih kamu titipkan padaku.

Aku melepaskanmu,” kataku akhirnya.

“Aku nggak bisa, Ra,” katamu.

“Kamu menyukainya?”

Kamu diam lagi.

“Itu artinya kamu bisa.”

Kamu entah tahu atau tidak, sejak hari itu, semua mimpi-mimpiku seperti kandas. Aku tidak tahu aku akan mengalami patah hati semacam itu. Aku memutuskan untuk pindah kos. Aku tutup semua cerita dan kenangan tentangmu. Setidaknya, aku masih bersyukur karena menyadari bahwa hidup masih terus berjalan tanpamu.
__


*Ahimsa Azaleav~

Minggu, 13 November 2016

Takdir Semesta


 Image result for gambar menunggu kekasih di malam hari


Jika kamu bertanya, siapa yang selalu ada di bait doa, tersenyumlah, sebab namamu tak pernah lepas dari genggamku.

Jika kamu bertanya, siapa yang kuinginkan ada di masa depanku, tersenyumlah, sebab semesta pun tahu, kamu adalah jawabku.
_

Diamku, bukan berarti tidak memperhatikanmu. Andai kamu tahu, selalu namamu yang kusebut sebelum aku terpejam malam.

Aku diam, karena aku ingin semakin memahami, jika mencintai, tak harus sekarang juga memiliki.
Mencintaimu, menyayangimu, mengkhawatirkanmu, sungguh, itu sudah bagian dari keseharianku. Mungkin tak kau dengar resahku. Namun percayalah, semesta setiap saat mendengar doaku untuk keselamatanmu.

Mungkin benar, saat ini kita sedang begitu dijauhkan. Tetapi,aku ingat perkataan; doa-doa itu kekuatan, ia sanggup mendekatkan.
_

Baik-baiklah di mana pun kamu berada. Mungkin, sekarang belum waktunya semesta mempertemukan kita. Semoga keyakinan kita sama, doa yang dilakukan bersama-sama, akan lekas sampainya.

Malam ini, doaku hanya sesederhana ini; semoga Tuhan mempertemukan dan menyatukan kita, dengan cara yang sebaik-baiknya.
__

#penakecil

Jumat, 11 November 2016

Far A Part


 
Kau tahu?
Allah mempertemukan kita untuk satu alasan.
Entah untuk belajar atau mengajarkan.
Entah hanya untuk sesaat atau selamanya.
Entah akan menjadi bagian terpenting atau sekedarnya.
Akan tetapi, tetaplah menjadi yang terbaik di waktu tersebut.
Lakukan dengan tulus. 
Meski akhirnya nanti, tidak menjadi seperti apa yang kita inginkan.
Bagaimanapun.
Tidak ada yang sia-sia, karna Allahlah yang mempertemukan. 

 Tere Liye~


"Kak, bagaimana caranya mengetahui, sejauh mana hati kita benar-benar telah beranjak darinya?" tanya perempuan itu. 

Lelaki itu tersenyum. Kemudian memandang sekilas gadis di sebelahnya.

"Ketika namanya disebut, ketika sekelebat sosoknya muncul dalam bayang, ketika kau teringat akan setiap kekatanya, atau.., saat hujan yang seolah menjadi penghubung rasa diantara kalian itu berderai.., masih adakah debar yang tersisa dalam detakmu?"

Perempuan itu menunduk. Meredam rasa dalam hatinya. Bahkan saat ini, hatinya tengah bergetar. Nanar.

"namun, jika kau telah mampu mengukir senyum tanpa rasa sakit akan keterpisahan itu, mungkin hatimu telah mampu untuk memposisikan ia dalam bingkai yang seharusnya. Tempat yang tepat, di dalam sana. Meski berulang kali bayangnya muncul dalam benak, kau akan baik-baik saja." lanjut laki-laki itu, tanpa menunggu jawaban atas pertanyaannya.

"Apa, itu artinya aku melupakannya?"

Lelaki itu menggeleng.
  
"Justru dia ada, dalam konotasi makna yang berbeda. Kau bukan melupakannya. Namun kau mampu berdamai dengannya. Dengan rasa itu. Kemudian kau mensyukurinya. Hingga rasa sakit itu, kemudian berubah menjadi lapang yang menenangkan."

Gadis itu tersenyum. Menghela napas lega. Ada hangat yang diam-diam menyelusup dalam hatinya.

:')

__

Bukankah cara terbaik menghadapi masa lalu, adalah dengan dihadapi?
Berdiri dengan gagah, menyambutnya dengan damai, menerima apa adanya.
Buat apa dilawan, dilupakan?  
Itu sudah menjadi bagian dari hidup kita.
Peluk semua kisah itu. Berikan tempat terbaik dalam hidupmu.
Dengan kau menerimanya, pelan-pelan ia kan memudar dengan sendirinya.
Disiram oleh waktu, dipoles dengan kenangan baru yang lebih bahagia.
Apakah mudah melakukannya?
It's difficult!
Tapi bukan berarti mustahil! 
...


 
@Ra~
#repost
kau tahu?
terkadang, mengenang itu, indah! ^^

Sekeping Cinta Tere Liye


 In the end, people will forget what you say
People will forget what you do
But people will not forget;
 how you made the feel
 ...

@masihsama_
Ceritanya, kemarin hari Jum'at tanggal 4 November 2016, Alhamdulillah gue berkesempatan ikut acara talkshow-nya Tere Liye untuk pertama kalinya, setelah beberapa kali gagal ikut event sharing bersama beliau di beberapa tempat. Meskipun perjuangan banget biar bisa ikut menghadiri acaranya, tapi tak apa lah, yang penting gue bisa menyerap ilmunya langsung dari beliau. ^^

Disini, gue nggak akan menjabarkan tentang isi talkshow kemarin, atau gimana nulis yang bener menurut beliau (yang ini suatu saat nanti, Insya Allah). Disini, gue cuma pengen nge-share suatu pelajaran yang menurut gue penting banget. Pelajaran tentang kehidupan yang diem-diem gue serap sepanjang berjalannya acara talkshow bersama Bang Tere. Yang mungkin, tidak banyak yang menyadarinya (atau mungkin nggak sama sekali?).

Karena judul acaranya adalah talkshow, jadi tentu saja berbeda dengan seminar-seminar biasanya. Lebih banyak tanya jawab interaktiv antar pembicara dan hadirin yang ada. Kita bebas mau tanya apa aja (seputar kepenulisan dan buku-buku beliau tentunya), dan beliau akan langsung menjawab dalam beberapa sesi pertanyaan.

Nah, disinilah pelajaran yang diem-diem gue dapatkan.

Setiap kali ada peserta yang bertanya, Tere Liye selalu bertanya perihal nama.  "Siapa nama kamu?" 
Begitu seterusnya, hingga satu sesi habis oleh beberapa penanya. Baru kemudian beliau akan menjawab satu persatu pertanyaan mereka.

Disetiap Tere Liye menjawab pertanyaan-pertanyaan tadi, beliau selalu menyebutkan nama penanya tersebut. Dan itu nggak cuma di awal. Berulang-ulang, hingga jawaban yang diberikan olehnya habis. Bahkan, beliau memberikan motivasi serta do'a kepada sang penanya. Membuat mereka merasa tersanjung dan optimis dengan impiannya sebagai penulis, akan terwujud.

"Saya yakin, Zahra (nama samaran ^^), bisa jadi beberapa tahun kedepan, kamu lebih terkenal dibanding saya sekarang, dan bisa jadi, saya yang akan membaca buku-buku kamu nantinya." ujarnya mantap suatu kali, mengakhiri jawabannya atas pertanyaan salah satu peserta.

Siapa sih, yang nggak tersanjung? Siapa sih, yang nggak senang namanya disebut, dipanggil berulang-ulang di diantara sekian banyak orang yang hadir, apalagi oleh seorang penulis yang banyak dijadikan contoh oleh para penulis pemula seperti kita-kita ini? (mungkin gue aja yang pemula. hhe..). Seolah-olah, hanya dia seorang yang diajak ngomong sama Bang Tere. Seolah-oleh hanya dia yang diberikan motivasi, disemangati, dan didoakan sedemikian yakinnya.

***
Pandanglah wajahnya, tatap matanya, sebut namanya, dan ucapkan dengan ketulusan yang mengalir dari  hatimu. Niscaya kata-kata itu akan mudah diterima, menyerap dalam hati, dan mengendap lama. Tak akan mudah dilupakan, dan terngiang sepanjang usia.

Entah disadari atau tidak, nampaknya Bang Tere telah menerapkan itu untuk membuat nasihatnya tidak sekedar didengar, tapi merasuk dalam hati setiap orang. Menjadi motivasi besar bagi mereka. Membuat mereka tersanjung, kemudian bersemangat untuk menggapai cita-citanya.

Aih, salut buat Bang Tere!
Berharap suatu saat gue bisa seperti beliau, bahkan lebih baik. Amiin_ ^^



@zhda-
~berasa aneh nulis kayak gini^^ It's been a long time :)

An Excellent Gift


 Image result for ira lathief do what you love


In the end, people will forget what you say
People will forget what you do
But people will not forget how you made them feel..

 
"Ra, nih buat kamu." katanya tiba-tiba sembari menyodorkan sebuah buku.

Aku yang sudah membaca gelagatnya dari tadi, mafhum, akan sesuatu yang sedari tadi ingin ia katakan, namun berulang kali tertahan; menunggu waktu yang tepat; mungkin. ^^

"Hm? Apa nih? Ciyee, yang lagi baiik ..."

"Apa sih, enggak tuh, biasa aja." jawabnya sambil berusaha untuk bersikap normal; seperti biasa. (Aku tahu kok, kau sedang mencoba agar suasananya tidak berubah  awkward. ^^)

"DO WHAT YOU  LOVE, LOVE WHAT YOU DO" ucapku mengeja pelan judul buku yang masih tersegel rapi itu. Desain covernya unik, menyerupai dua buku bolak-balik. Bersampul merah dengan putih sebagai kombinasinya. Full color. And I love it so much! (You know, seriously, it's really what I feel!)

Sebuah hadiah. Meski tanpa sampul kado. Tanpa basa-basi. Apa adanya. Bahkan masih ada label harga yang disobek ujungnya. ^^ (But, that's what I like from yourself. :))

Kita selalunya begitu. Tak ada romantis-romantisnya, kata mereka. Mengalir begitu saja. Diselingi tawa yang tak pernah alpa. To the point. Justru mungkin, jika hadiah itu datang dengan segala atribut sampul kado beserta seremonial layaknya orang lain yang saling memberi hadiah, bisa jadi malah terkesan aneh bagi kita.

Bukan barang yang terpenting bagiku saat itu, namun arti dari sebuah persaudaraan yang dibangun diatas altar indah bertitle Ukhuwah. (But, that's the right gift for me. You've known, that I like reading much. Thanks!)

Satu yang tak pernah berubah darimu. Kau selalu tulus. Satu ketulusan yang selalu ingin membuatku untuk belajar banyak darimu. Tanpa pamrih, pun tanpa banyak berpikir panjang. Jika kau ingin memberi, saat itu juga kau akan memberi. Entah bagaimana keadaanmu saat itu.

Tak perlu muluk-muluk seperti apa yang orang lain lazimi. Ketulusanmu cukup membuat naluri ini tersentuh. Dan pengaruhnya akan abadi, seperti apa yang tertulis di halaman pertama buku kecil pemberianmu.
 
Aih, whatever, I like this book so much! And speechless to say anything.
Kelak, akan aku ceritakan pada dunia,
I proud  that I've friend like you!

this book from you! ^_^
@zhda_
 08.11.16

Rabu, 02 November 2016

Hadiah Terindah



Kawan,
Pernahkah kalian merasa;
Ingin segera bekerja, mencari uang, kemudian mendapatkan penghasilan yang banyak untuk membahagiakan kedua orangtua?

Bagaimana caranya mendapatkan uang yang banyak secara instan, agar dapat membelikan mereka makanan yang enak, pakaian yang layak, dan memberikan hadiah terbaik untuk keduanya?

Ingiin segera membahagiakan mereka, dengan setidaknya sesuatu yang dapat kita berikan hasil dari kerja keras serta keringat kita sendiri.

Namun rupanya, taqdir belum berpihak pada kita. Kesempatan itu, belumlah menjadi milik kita. Dan kemudian rasa bersalah itu muncul. Ketika kita menyadari, bahwa kita masih bergantung pada keringat mereka.

Sedangkan kemudian kita sadar, waktu yang ada tidaklah banyak. Kesempatan yang tersisa semakin menyempit, seiring bertambahnya usia kita, pun mereka. Sebagai anak perempuan, ada kekhawatiran tersendiri yang tidak bisa dirasakan oleh mereka, kaum laki-laki. Ada rasa takut yang membayang seiring berjalannya waktu menuju kematangan usia.

Masihkah kita bisa untuk lebih lama menemani orangtua terkasih, membersamai mereka di masa-masa senja yang mulai menguning, merunduk pada penghujung yang entah?

Ah, sedang kita pun menyadari, huru-hara akhir zaman semakin mendekati batasnya, meski kita sama sekali tak mengerti kapan akhir dari segalanya, namun setiap tanda yang muncul, nampak semakin nyata.

Umii, Abi,,
Betapa terbayang wajah keduanya. Wajah suci yang bercahaya. Penuh guratan kehidupan yang sarat oleh makna. Senyum penuh kasih serta cinta yang tiada habisnya.

Ah, bagaimana aku mampu untuk setidaknya membahagiakan kalian?
Karena untuk membalasnya, aku sebenar sadar, bahwa kebaikan seluas langit dan bumi yang aku lakukan, tak akan mampu menebus seujung kuku pun keringat yang menetes atas jerih payah penuh cinta dari kalian.

Kau pernah merasakannya, kawan?
_

Kekhawatiran itu wajar adanya. Rasa yang seharusnya ada pada nurani seorang anak. Karena kita sayang, karena kita cinta, karena kita tak ingin menyesal di akhirnya.

Harta yang kita berikan, makanan lezat yang mampu mengenyangkan mereka, perawatan yang membuat mereka senantiasa sehat di sepanjang usianya, ketahuilah, bukan itu yang mereka inginkan. Bukan hal dunia yang mereka harapkan dari anak-anaknya. Bukan harta yang membuat mereka bahagia.

Kawan,
jadilah sholih sholihah. Jadilah permata yang menyejukkan hati mereka. Jika memang belum masamu untuk bekerja, carilah ilmu sebanyak-banyaknya. Belajarlah dengan sebaik-baiknya. Tekunmu dalam belajar serta kesungguhanmu dalam menyelami ilmu adalah bentuk baktimu pada mereka. Jangan sia-siakan mereka atas peluh yang menetes di setiap detiknya; mencarikan nafkah untuk kalian.

Agar kalian berguna untuk ummat.
Agar kalian mampu bersyukur.
Agar kalian berbakti. 

Doakan mereka.

Agar Allah mudahkan urusan mereka.
Agar Allah sehatkan mereka.
Agar Allah limpahkan rizki-Nya untuk mereka.
Agar Allah karuniakan kesehatan serta umur yang panjang bagi keduanya.
Agar kalian dipertemukan sebagai keluarga di JannahNya.
_

Jadilah sholih-sholihah. Berbaktilah. Doakanlah.
Itu akan menjadi hadiah terindah, melebihi harta yang kau usahakan untuk mereka.

اللهم اغفرلي ولوالدي وارحمهما كما ربياني صغيرا 

_
#missing
@zahidaannayra~

Senin, 26 September 2016

Walked Away


Kau ..,
selalunya begitu
hadir, kemudian pergi

ada,
kemudian tiada

seperti angin lalu yang berhembus
entah bermuara di mana

pun bermula dari mana

menyapu tempat-tempat tinggi
tak menentu,
terbang rendah

tak melewatkan sehelai rumput
menjadikannya bergoyang

kemudian kau tinggalkan,
lagi

Seperti lebah yang pergi
tika cecap tak lagi murni
hambar,

tanpa rasa

Ada yang baru, kau pergi
carik yang lama telah lunglai

tanpa menoleh
barang sejenak

abai,
tak peduli

Kau;
jangan pernah datang,
jika tak ingin kembali_


@Ra~ 

Rabu, 31 Agustus 2016

Bagimu Syurga


 Image result for gambar jangan marah


Ada kalanya, diam menjadi pilihan terbaik, ketika tak ada hal lagi yang bisa kita lakukan. Menjadi lebih baik, ketika selangkah saja kita bergerak, justru segalanya akan menjadi lebih runyam. Dan permasalahan akan semakin rumit untuk diselesaikan.

Seperti ampas. Semakin kita mengaduknya, semakin bercampurlah ia. Menyatu dengan air yang tak lagi jernih. Semakin sulit  bagi kita untuk memilahnya. Memisahkan mana yang seharusnya dibuang, atau dibiarkan begitu saja.

Dan menunggu, mungkin pilihan terbaik untuk saat itu. Tunggulah agar semuanya reda. Tunggulah, sampai semuanya mengendap. Tenang, dan jernih. Biarkan waktu yang akan meredam semua ampas itu.
Nanti, jika semuanya benar-benar telah mengendap, jangan sedikitpun kau menyentuh endapan itu, meski hanya dengan sebuah sentilan lembut, apalagi mengaduknya.

Biarkan, nikmati saja jernih yang ada. Bukankah kau telah menunggu waktu untuk membuatnya tak lagi bercampur, kotor, dan tak bisa dinikmati?

Banyak hal-hal yang terjadi belakangan ini. Membuat sedikit banyak pikiran tertuntut untuk kerja lebih ekstra dari biasanya. Tak dapat kupungkiri, di sela penat yang kian memuncak, frekuensi emosi pun meningkat. Menuntut kesabaran serta pengambilan sikap yang tak lagi mudah. Perlakuan di luar kehendak pun seringkali terjadi. Lepas kontrol akan penstabilan emosi. Betapa tak mudah titah yang bahkan Rosulullah ta'kid, ketika sahabatnya meminta  nasihat kepadanya; Jangan marah! Jangan marah!

Image result for gambar jangan marah

Singkat, padat, dan jelas. Namun realisasinya, sangat tidak mudah. Latihannya membutuhkan waktu yang tidak sebentar. Dengan ujian yang beragam. Tentunya terus meningkat, setara dengan level keimanan kita. Mampukah? Sesabar apakah kita?

Iyakah, masalah yang kita hadapi seberat ayahanda Ya'kub alaihissalam, yang didustai oleh kesepuluh anak-anaknya perihal kematian Yusuf?

Atau, apakah masalah yang membuat kita marah itu, sudah sesakit Nabi Muhammad, ketika berdakwah, namun diusir dan dilempari batu?

Bahkan beliau pun mendoakan kebaikan kepada mereka, ketika malaikat bahkan menawarkan untuk menjatuhkan gunung kepada mereka yang mengusirnya.

Diam, terkadang menjadi lebih baik. Dengan kerendahan hati serta lapang yang kita luaskan untuk meredam segalanya. Diam,, namun doa tak pernah berhenti merapal syahdu. Diam, namun dengan membangun bata demi bata kesabaran yang lebih tinggi dari sebelumnya. Berharap senyum akan tetap terukir, meski frekuensi kemarahan, telah mencapai ubun-ubun pertahananan.

Meredam amarah, sama dengan menggagalkan upaya syaithan untuk menguasai hati, jiwa, dan pikiran kita. Membuatnya gagal dengan segala bisikin serta hembusan yang meniadai dinding kesabaran. Membuat hati kita lebih lapang, serta derajat kesabaran itu, akan naik satu tingkat dibanding sebelumnya.

Dalam mengelola emosi, Aristoteles punya bahasa sederhana,
"Untuk marah itu memang mudah. Yang sulit, adalah marah pada saat yang tepat, dari orang yang tepat, kepada orang yang tepat, dalam porsi yang tepat."

Selamat memposisikan diri, mengelola emosi dengan keutuhan sadar yang mendominasi ... ;)

Image result for gambar jangan marah
Jangan marah, bagimu syurga ..



@zahidaannayra_
#selfreminder